Senin, 10 Desember 2018

TUGAS SIM, MAYANG SARI, YANANTO MIHADI PUTRA, SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN, 2018.

“MENJELASKAN TENTANG IMPLEMENTASI / IMPLIKASI PERILAKU ETIS DARI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI” Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat (Brinckloe,1977). Dengan kata lain, keputusan mempercepat diambilnya tindakan, mendorong lahirnya gerakan dan perubahan (Hill,1979). Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai proses memilih tindakan dari beberapa alternatif untuk mencapai tujuan/sasaran (proses mengakhiri suatu masalah). Oleh karena itu ’Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan’ dapat diartikan sebagai suatu proses identifikasi, mencari penyebab, pemilihan alternatif dan mengantisipasi hambatan yang mungkin menghalangi terlaksananya keputusan. Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara teoritis dan realistis, bagaimana cara membuat suatu keputusan. Ragam dalam pengambilan B. Proses Pengambilan Keputusan Ada dua pandangan dalam pencapaian proses mencapai suatu keputusan organisasi (Brinckloe,1977) yaitu : 1. Optimasi. Di sini seorang eksekutif yang penuh keyakinan berusaha menyusun alternatif-alternatif, memperhitungkan untung rugi dari setiap alternatif itu terhadap tujuan organisasi. Sesudah itu memperkirakan kemungkinan timbulnya bermacam-macam kejadian ke depan, mempertimbangkan dampak dari kejadian-kejadian itu terhadap alternatif-alternatif yang telah dirumuskan dan kemudian menyusun urut-urutannya secara sistematis sesuai dengan prioritas lalu dibuat keputusan. Keputusan yang dibuat dianggap optimal karena setidaknya telah memperhitungkan semua faktor yang berkaitan dengan keputusan tersebut. 2. Satisficing. Seorang eksekutif cukup menempuh suatu penyelesaian yang berasal memuaskan ketimbang mengejar penyelesaian yang terbaik. Model satisficing dikembangkan oleh Simon (Simon,1982; roach, 1979) karena adanya pengakuan terhadap rasionalitas terbatas (bounded rationality). Rasionalitas terbatas adalah batas-batas pemikiran yang memaksa orang membatasi pandangan mereka atas masalah dan situasi. Pemikiran itu terbatas karena pikiran manusia tidak megolakan dan memiliki kemampuan untuk memisahkan informasi yang tertumpuk. Menurut Frank Harison (Hitt, 1970), faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya rasionalitas terbatas antara lain informasi yang datang dari luar sering sangat kompetitif atau informasi itu tidak sempurna, kendala waktu dan biaya, serta keterbatasan seorang mengambil keputusan yang rasional untuk mengerti dan memahami masalah dan informasi, terutama informasi dan teknologi. C. Unsur Prosedur Keputusan Suatu keputusan ada unsur prosedur, yaitu pertama pembuatan keputusan mengidentifikasikan masalah, mengklarifikasi tujuan-tujuan khusus yang diinginkan, memeriksa berbagai kemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mengakhiri proses itu dengan menetapkan pilihan bertindak. Jadi suatu keputusan sebenarnya didasarkan atas fakta dan nilai (facts and values). Keduanya sangat penting tetapi tampaknya fakta lebih mendominasi nilai-nilai dalam menyehatkan keputusan suatu organisasi (Bridges, 1971). Manajemen konflik sangat berpengaruh bagi anggota organisasi. Pemimpin organisasi dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul dapat berdampak positif untuk meningkatkan mutu organisasi. Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga. Menurut Ross (1993), manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik. Sementara Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses. Minnery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal. Sama halnya dengan proses manajemen konflik yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan kota meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik (dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik dan struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan atau pihak ketiga dalam mengelola konflik. Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam konteks perencanaan kota dan melibatkan perencana sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak ketiga. Pengelolaan Konflik Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan: • Disiplin Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya. • Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya; Perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. • Komunikasi Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup. • Mendengarkan secara aktif Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan. Teknik atau Keahlian untuk Mengelola Konflik • Pendekatan dalam resolusi konflik tergantung pada : • Konflik itu sendiri • Karakteristik orang-orang yang terlibat di dalamnya • Keahlian individu yang terlibat dalam penyelesaian konflik • Pentingnya isu yang menimbulkan konflik • Ketersediaan waktu dan tenaga 3. Metode untuk Menangani Konflik Metode yang sering digunakan untuk menangani konflik adalah pertama dengan mengurangi konflik; kedua dengan menyelesaikan konflik. Untuk metode pengurangan konflik salah satu cara yang sering efektif adalah dengan mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling thing down). Meskipun demikian cara semacam ini sebenarnya belum menyentuh persoalan yang sebenarnya. Cara lain adalah dengan membuat “musuh bersama”, sehingga para anggota di dalam kelompok tersebut bersatu untuk menghadapi “musuh” tersebut. Cara semacam ini sebenarnya juga hanya mengalihkan perhatian para anggota kelompok yang sedang mengalami konflik. Cara kedua dengan metode penyelesaian konflik. Cara yang ditempuh adalah sebagai berikut : 1. Dominasi (Penekanan) Metode-metode dominasi biasanya memilki dua macam persamaan, yaitu : (a) Mereka menekan konflik, dan bahkan menyelesaikannya dengan jalan memaksakan konflik tersebut menghilang “di bawah tanah”; (b) Mereka menimbulkan suatu situasi manang-kalah, di mana pihak yang kalah terpaksa mengalah kaena otoritas lebih tinggi, atau pihak yang lebih besar kekuasaanya, dan mereka biasanya menjadi tidak puas, dan sikap bermusuhan muncul. Tindakan dominasi dapat terjadi dengan macam-macam cara sebagai berikut : a. Memaksa (Forcing) Apabila orang yang berkuasa pada pokoknya menyatakan “Sudah, jangan banyak bicara, saya berkuasa di sini, dan Saudara harus melaksanakan perintah saya”, maka semua argumen habis sudah. Supresi otokratis demikian memang dapat menyebabkan timbulnya ekspresi-ekspresi konflik yang tidak langsung, tetapi destruktif seperti misalnya ketaatan dengan sikap permusuhan (Malicious obedience) Gejala tersebut merupakan salah satu di antara banyak macam bentuk konflik, yang dapat menyebar, apabila supresi (peneanan) konflik terus-menerusa diterapkan. b. Membujuk (Smoothing) Dalam kasus membujuk, yang merupakan sebuah cara untuk menekan (mensupresi) konflik dengan cara yang lebih diplomatic, sang manager mencoba mengurangi luas dan pentingnya ketidaksetujuan yang ada, dan ia mencoba secara sepihak membujuk phak lain, untuk mengkuti keinginannya. Apabila sang manager memilki lebih banyak informasi dibandingkan dengan pihak lain tersebut, dan sarannya cukup masuk akal, maka metode tersebut dapat bersifat efektif. Tetapi andaikata terdapat perasaan bahwa sang menejer menguntungkan pihak tertentu, atau tidak memahami persoalan yang berlaku, maka pihak lain yang kalah akan menentangnya. c. Menghindari (Avoidence) Apabila kelompok-kelompok yang sedang bertengkar datang pada seorang manajer untuk meminta keputusannya, tetapi ternyata bahwa sang manajer menolak untuk turut campur dalam persoalan tersebut, maka setiap pihak akan mengalami perasaan tidak puas. Memang perlu diakui bahwa sikap pura-pura bahwa tidak ada konflik, merupakan seuah bentuk tindakan menghindari. Bentuk lain adalah penolakan (refusal) untuk menghadapi konflik, dengan jalan mengulur-ulur waktu, dan berulangkali menangguhkan tindakan, “sampai diperoleh lebih banyak informasi” d. Keinginan Mayoritas (Majority Rule) Upaya untuk menyelesaikan konflik kelompok melalui pemungutan suara, dimana suara terbanyak menang (majority vote) dapat merupakan sebuah cara efektif, apabla para angota menganggap prosedur yang bersangkutan sebagai prosedur yang “fair” Tetapi, apabila salah satu blok yang memberi suara terus-menerus mencapai kemenangan, maka pihak yang kalah akan merasa diri lemah dan mereka akan mengalami frustrasi. 2. Penyelesaian secara integratif Dengan menyelesaikan konflik secara integratif, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan persoalan bersama yang bisa dipecahkan dengan bantuan tehnik-tehnik pemecahan masalah (problem solving). Pihak-pihak yang bertentangan bersama-sama mencoba memecahkan masalahnya,dan bukan hanya mencoba menekan konflik atau berkompromi. Meskipun hal ini merupakan cara yang terbaik bagi organisasi, dalam prakteknya sering sulit tercapai secara memuaskan karena kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan yang menimbulkan persoalan. . Ada tiga macam tipe metode penyelesaian konflik secara integrative yaitu metode (a) Consensus (concencus); (b) Konfrontasi (Confrontation); dan (c) Penggunaan tujuan-tujuan superordinat (Superordinate goals) (Winardi, 1994 : 84- 89) 3. Kompetisi Penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation. 4. Kompromi Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik. Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun kalah. Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik. Yang termasuk kompromi diantaranya adalah: a. Akomodasi Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik perdamaian. b. Sharing Suatu pendekatan penyelesaian kompromistis antara dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lain menerima sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan. 5. Konflik Antara Karyawan dengan Pimpinan Konflik jenis ini relatif sulit karena sering tidak dinyatakan secara terbuka. Umumnya karyawan pihak karyawan lebih cenderung untuk diam, meskipun mengalami pertentangan dengan pihak atasan. Yang penting bagi suatu organisasi adalah agar setiap konflik hendaknya bisa diselesaikan dengan baik. Kebanyakan suatu konflik menjadi makin berat karena lama terpendam. Karena itulah penting bagi suatu organisasi “menemukan” konflik atau sumbernya sedini mungkin. Cara yang ditempuh adalah dengan menggalakkan saluran komunikasi ke atas ( up ward channel of communication ). Menurut Heidjrachman Ranupandojo ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk menemukan konflik atau sumbernya, yaitu : o Membuat prosedur penyelesaian konflik (grievance procedure) Dengan adanya “grievance procedure” ini memberanikan karyawan untuk mengadu kalau dirasakan adanya ketidak adilan. Keberanian untuk segera memberitahukan masalah, merupakan suatu keuntungan bagi organisasi/perusahaan. o Observasi langsung Tidak semua konflik disuarakan oleh karyawan. Oleh karena itu ketajaman observasi dari pimpinan akan dapat mendeteksi ada tidaknya suatu (sumber) konflik, sehingga dapat segera ditangani sebelum mengalami eskalasi. o Kotak saran (suggestion box) Cara semacam ini banyak digunakan oleh perusahaan atau lembaga-lembaga lain. Cara ini cukup efektif karena para karyawan ataupun para pengadu tidak perlu bertatap muka dengan pimpinan. Bahkan bisa merahasiakan identitasnya. Namun, lembaga juga harus hati-hati karena adanya kemungkinan adanya “fitnah” dari kotak saran tersebut. o Politik pintu terbuka Politik pintu terbuka memang sering diumumkan, tetapi hasilnya sering tidak memuaskan. Hal ini sering terjadi karena pihak pimpinan tidak sungguh-sungguh dalam “membuka” pintunya. Paling tidak ini dirasakan oleh karyawan. Juga adanya keseganan dari pihak karyawan sering menjadi penghalang terhadap keberhasilan cara semacam ini. o Mengangkat konsultan personalia Konsultan personalia pada umumnya seorang ahli dalam bidang psikologi dan biasanya merupakan staf dari bagian personalia. Kadang-kaang karyawan segan pergi menemui atasannya, tetapi bisa menceritakan kesulitannya pada konsultan psikologi ini. o Mengangkat “ombudsman” Ombudsman adalah orang yang bertugas membantu “mendengarkan” kesulitan-kesulitan yang ada atau dialami oleh karyawan untuk diberitahukan kepada pimpinan. Ombudsman biasanya adalah orang yang disegani karena kejujuran dan keadilannya. Langkah-langkah Manajemen Untuk Menangani Konflik a. Menerima dan mendefinisikan pokok masalah yang menimbulkan ketidak puasan. Langkah ini sangat penting karena kekeliruan dalam mengetahui masalah yang sebenarnya akan menimbulkan kekeliruan pula dalam merumuskan cara pemecahannya. b. Mengumpulkan keterangan/fakta Fakta yang dikumpulkan haruslah lengkap dan akurat, tetapi juga harus dihindari tercampurnya dengan opini atau pendapat. Opini atau pendapat sudah dimasuki unsur subyektif. Oleh karena itu pengumpulan fakta haruslah dilakukan denganm hati-hati c. Menganalisis dan memutuskan Dengan diketahuinya masalah dan terkumpulnya data, manajemen haruslah mulai melakukan evaluasi terhadap keadaan. Sering kali dari hasil analisa bisa mendapatkan berbagai alternatif pemecahan. d. Memberikan jawaban Meskipun manajemen kemudian sudah memutuskan, keputusan ini haruslah dibertahukan kepada anggota organisasi. e. Tindak lanjut Langkah ini diperlukan untuk mengawasi akibat dari keputusan yang telah diperbuat. f. Pendisiplinan Konflik dalam organisasi apabila tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan tindakan pelecehan terhadap aturan main yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu pelecehan ataupun pelanggaran terhadap peraturan permainan (peraturan organisasi) haruslah dikenai tindakan pendisiplinan agar peraturan tersebut memiliki wibawa. Organisasi bisnis biasanya bertujuan untuk mencari keuntungan finansial, organisasi kemasyarakatan biasanya bertujuan untuk tujuan kemasyarakatan, organisasi politik biasanya untuk tujuan kekuasaan dan organisasi keagamaan biasanya untuk tujuan misi atau dakwah.Tujuan tersebut menurut AsakuWalisongo (2013) dicerminkan oleh sasaran yang harus dilakukan baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang.Implementasinya setiap organisasi merumuskan visi, misi, serta tujuan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Setiap organisasi tentu memiliki pemimpin dan kepemimpinan.Biasanya pemimpin memiliki pengaruh lebih besar dalam upaya pencapaian tujuan organisasi, oleh karena pemimpin sering diistilahkan dengan orang yang mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan yang diharapakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Northouse's (2007 : 3), leadership is a process by which a person influences others to accomplish an objective and directs the organization in a way that makes it more cohesive and coherent. Pendapat itu sejalan dengan yang disampaikan olehHusaini Usman (2013 : 312), kepemimpinan ialah ilmu dan seni mempengaruhi, orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Jadi jelas bahwa pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap sukses tidaknya sebuah oraganisasi. Salah satu fungsi yang harus dilakukan pemimpin dalam upaya pencapaian tujuan adalah bagaimana pemimpin itu bisa mengambil keputusan dengan efektif.Dalam realita pengambilan keputusan bukanlah hal yang sedernana, sebab setiap pengambilan keputusan biasanya mengandung dua konsekuensi sekaligus baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatif. Namun demikian seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan dari beberapa pilihan yang dihadapai. Seorang pemimpin diharapkan mengikuti pendapat Terry dalam Marzuki (2015 : 2), bahwa dalam mengambil keputusan hendaklah memilih yang terbaik dari berbagai altenatif yang tersedia. Salah satu tugas terpenting seorang pemimpin adalah untuk menentukan yang terbaik bagi organisasi dan para anggotanya.Namun dalam mengambil keputusan, terkadang pemimpin pun menghadapi dilema dan seolah berada di persimpangan jalan. Apalagi jika pilihan yang ada membuat Anda harus mengorbankan kepentingan orang lain atau memberikan resiko yang akan merugikan tim.Kadangkala keputusan sulit harus diambil demi terwujudnya cita-cita bersama.Adakalanya pemimpin ternyata mengambil keputusan yang salah dan merugikan organisasi. Tetapi melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan masih lebih baik dibandingkan tidak melakukan tindakan apapun sama sekali. Kecepatan dan ketepatan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan lazimnya menjadi tolak ukur kompetensi dan kredibilitas yang dimilikinya. Jika pemimpin lamban dan ragu-ragu dalam bertindak, anak buah akan melihat bahwa pemimpin tersebut adalah pemimpin yang tidak berani mengambil resiko. Terbiasa cepat dalam pengambilan keputusan memang bukan pekerjaan mudah, butuh rasio yang jernih dan intuisi yang tajam agar bisa menghasilkan keputusan yang tepat.Menarik untuk dikaji bagaimana seorang pemimpin bisa mengambil keputusan dengan baik, dalam pengertian efektif, efisien, meminimalkan resiko, serta bermanfaat bagi kemajuan organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapkan. Dari uraian di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1). Apa yang dimaksud dengan pemgambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin ? (2). Bagaimana pengambilan keputusan yang efektif bisa dilakukan oleh seorang pemimpin ? (3).Bagaimana pengaruh pengambilan keputusan yang efektif bagi kemajuan organisasi ? Pengambilan Keputusan Pengertian Pengambilan Keputusan Robins (1997) dalam Syafaruddin berpendapat bahwa “decision making is which in choses between two or more alternative ”.Hal tersebut berarti pengambilan keputusan ialah memilih dua alternatif atau lebih untuk melakukan suatu tindakan tertentu baik secara pribadi maupun kelompok. Demikian pula Drommond (1985) berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan usaha penciptaan kejadian-kejadian dan pembentukan masa depan (peristiwa-peristiwa pada saat pemilihan dan sesudahnya). Sejalan dengan beberapa pendapat di atas Mondy dan Premeaux (1995) menjelaskan bahwa “decision making is the process of greating and evaluating alternatives and making choises among them”. Pendapat ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pada saat sejumlah langkah yang harus dilakukan dengan pengevaluasian alternatif untuk membuat putusan dari semua alternatif yang ada (Syaruddin:48). Berdasarkan hal tersebut, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses memilih sejumlah alternatif pengambilan keputusan penting bagi manajer administrator karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi. Weyne dan Miskel (2014:490) menjelaskan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab semua penyelenggara sekolah, namun sebelum keputusan diubah menjadi tindakan, maka keputusan tersebut tidak lebih baik dari iktikad baik.Pemutusan merupakan syarat mutlak bagi administrasi pendidikan karena sekolah, seperti halnya semua organisasi formal, pada dasarnya berupa pengambilan keputusan (Usman, 2013:440). Bertolak dari beberapa definisi dijelaskan di atas, maka disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan yang ingin dilakukan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Jenis-jenis Pengambilan Keputusan Penggolongan Pengambilan keputusan dapat dikelompokkan berdasarkan prosesnya, berdasarkan jumlah orang yang ikut serta dalam pembuatan keputusan dan berdasarkan jenis problem. Berdasarkan prosesnya, pengambilan keputusan dapat dibagi menjadi dua yaitu: Pengambilan keputusan emosional adalah pengambilan keputusan berdasarkan emosi. Pengambilan keputusan hanya berdasarkan perasaannya tidak berupaya untuk mencari alternatif-alternatif yang merupakan solusi problem. Solusi hanya muncul dalam emosi pemimpin berdasarkan pengalaman hidupnya. Pengalaman tersebut memberikan kecenderungan untk mengambil solusi yang selama ini telah dianggap baik dalam menyelesaikan problem yang dihadapi. Pengambilan keputusan rasional adalah keputusan yang berdasarkan informasi yang objektif dan proses logis. Prosesnya konsisten dengan pola terusji, melakukan penilaian dan perhitungan alternatif-alternatif yang bersedia mencapai pilihan maksimal dalam keterbatasan sumber-sumber dalam lingkungan. Prosesnya adalah sebagai berikut: Berorientasi pada tujuan organisasi. Pencapaian tujuan organisasi atau tujuan individu, jika pembuatan keputusan menyangkut kehidupan pribadi merupakan dasar utama analisis problem dan analisis alternatif-alternatif. Kejelasan problem. Problem yang dianalisis dan didefinisikan secara jelas dengan informasi objektif yang dapat dikumpulkan. Pengambilan keputusan dengan kreatif dan inovatif. Pengambilan keputusan dengan tidak kreatif mempunyai kecenderungan untuk membuat keputusan secara emosional. Dengan menggunakan kreativitasnya, pengambilan keputusan dapat menemukan alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah, kemudian memilih salah satu alternatif yang bermanfaat bagi pencapaian organisasi. Inovasi memungkinkan pengambilan keputusan melaksanakan keputusan dengan baik. Pilihan alternatif digunakan dengan menggunakan kriteria dan pembobotan Memilih alternatif dengan nilai tertinggi untuk pencapaian tujuan. Berdasarkan orang yang ikut serta dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini dikelompokkan dalam: Pengambilan keputusan individual adalah pengambilan keputusan yang dilakukan sendiri oleh pengambilan keputusan tanpa mengikutsertakan orang lain. Keuntungan pengambilan keputusan individual prosesnya cepat, lebih ekonomis dan tepat dalam keadaan krisis. Namun teknik pengalaman keputusan ini dapat menimbulkan konflik ketika keputusan dilaksanakan. Ketika melibatkan orang lain akan mengalami hambatan karena bukan keputusannya. Pengambilan keputusan kelompok adalah pengambilan keputusan yang dilakukan dalam kelompok. Pengambilan keputusan membuat komisi, satuan tugas, panel penelaah, tim studi, panitia atau tim pakar dan sebagainya untuk melakukan proses pengambilan keputusan. Teknik pengambilan keputusan kelompok dapat dilakukan antara lain dengan cara sebagai berikut: Mencari ide (brainstorming). Kelompok atau tim mengambil keputusan di bawah pimpinan kelompok. Pimpinan kelompok menyatakan problem dengan cara yang jelas sehingga dipahami oleh seluruh kelompok. Teknik kelompok nominal. Anggota kelompok mengambil semuanya saat bertemu dalam pertemuan. Akan tetapi, setiap anggota kelompok dapat bekerja sendiri-sendiri. Setiap anggota menulis idenya kemudian mengemukakan kepada kelompok. Teknik Delphi. Teknik pengambilan keputusan ini tidak mengharuskan anggota kelompok hadir bersama-sama di suatu tempat. Teknik Delphi dilaksanakan melalui: 1) Pemimpin tim memformulasikan problem kepada setiap anggota tim dengan kuesioner untuk meminta solusi, 2) Setiap tim mengisi kuesioner tersebut dan mengirimkannya kembali, 3) Pemimpin tim mengolah kuesioner tersebut lalu hasilnya dikirimkan dengan meminta solusi lagi, 4) Proses tersebut terus diulang sesuai kebutuhan sampai terjadi consensus, 5) Teknik demokrasi. Teknik pengambilan keputusan ini dilakukan melalui teknik pemungutan suara untuk suara terbanyak, alternatif yang terkumpul dipilih melalui suara terbanyak anggota kelompok. Berdasarkan jenis problemnya dikelompokkan menjadi: Pengambilan keputusan terprogram, yaitu pembuatan keputusan dapat dilakukan dengan menggunakan standar prosedur operasi rutin. Cirinya adalah: Problemnya terstruktur, sederhana dan informasinya tersedia lengkap. Problem dan proses pembuatan keputusannya sudah berulang-ulang terjadi sehingga sudah dapat diperhitungkan dan mempunyai pengalaman menyelesaikannya. Organisasi sudah mempunyai prosedur operasi standar, peraturan dan kebijakan untuk membuat keputusan. Pengambilan keputusan tidak terprogram ialah pengambilan keputusan yang problemnya unik, belum pernah terjadi. Informasi mengenai problem belum tersedia atau sedikit, peraturan, kebijakan, prosedur operasi standar untuk membuat keputusan yang belum ada. (Wirawan, 2014:556). Gaya Pengambilan keputusan Dalam membuat keputusan pemimpin/manajer menggunakan gaya pengambilan keputusan. Menurut Robert dan Angelo (2007) gaya pengambilan keputusan merupakan kombinasi mengenai bagaimana individu mempresepsikan dan memahami stimuli dan cara umum dimana ia memilih untuk informasi. Peneliti mengembangkan suatu model gaya pengambilan keputusan dalam dua dimensi: Orientasi nilai yaitu seberapa tinggi pengambilan keputusan memfokuskan diri pada memerhatikan tugas dan teknik atau memerhatikan orang dan masyarkakat ketika mengambil keputusan. Toleransi kepada ambiguitas adalah seberapa tinggi kebutuhan untuk struktur atau kontrol dalam hidupnya. Jika kedua dimensi tersebut digabungkan, maka dapat menciptakan empat gaya pengambilan keputusan, antara lain: Gaya membuat keputusan direktif. Orang dengan gaya mengambil keputusan direktif mempunyai toleransi untuk ambiguitas dan berorientasi memerhatikan ke arah tugas dan teknikal ketika mengambil keputusan. Gaya mengambil keputusan analitikal. Gaya mengambil keputusan ini mempunyai toleransi untuk ambiguitas dan karakteristiknya cenderung untuk terlalu menganalisis interaksi. Orang dengan gaya ini senang untuk mempertimbangkan lebih banyak informasi dan alternatif daripada gaya pengambilan keputusan direktif. Gaya mengambil keputusan konseptual. Orang dengan gaya mengambil keputusan konseptual mempunyai toleransi untuk ambiguitas dan cenderung untuk memfokuskan pada orang atau aspek sosial dari situasi kerja. Gaya mengambil keputusan behavioral. Gaya mengambil keputusan ini paling berorientasi pada orang. Orang yang mempunyai gaya pengambilan keputusan ini dapat bekerja baik dengan orang yang menyenangi interaksi sosial dimana pendapat dikemukakan dan dipertukarkan secara terbuka. Implikasi terhadap penelitian Penelitian menunjukkan sangat sedikit orang yang menggunakan satu gaya mengambil keputusan. Sebagian besar manager mempunyai karakteristik menggunakan dua atau tiga gaya mengambil keputusan. Demikian juga penelitian menunjukkan gaya mengambil keputusan bervariasi berdasarkan umur, level pekerjaan dan Negara (Robert &Kinicki, 2007). Orang dapat menggunakan pengetahuan membuat keputusan sebagai berikut: pengetahuan mengenai gaya mengambil keputusan dapat membantu memahami diri sendiri. Kesadaran mengenai gaya membuat keputusan dapat membantu orang mengetahui kelemahan dan keuatan untuk mengembangkan potensi dirinya. Membantu untuk meningkatkan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan menyadari gaya mengambil keputusan yang dipergunakan. Misalnya, jika berhubungan dengan gaya mengambil keputusan analitikal maka harus disediakan informasi sebanyak mungkin untuk mendukung idenya. Pengetahuan mengenai gaya mengambil keputusan memberikan kesadaran mengenai bagaimana orang dapat mengambil informasi yang sama, akan tetapi mengambil keputusan yang berbeda dengan mempergunakan strategi mengambil keputusan yang berbeda. Perbedaan gaya mengambil keputusan merupakan sumber konflik interpersonal. Model-model Pengambilan Keputusan Ada beberapa model pengambilan keputusan yang masing-masing didasarkan pada sekumpulan asumsi yang berbeda dan menawarkan wawasan yang unik dalam proses pengambilan keputusan. Bagian ini mengkaji tiga model pengambilan keputusan historis Ketiganya adalah (1) model rasional, (2) model normatif simon, (3) model keranjang sampah(Robert dan Kinicki, 2005:5). Usman (2013:440), menjelaskan ada 12 model pengambilan keputusan, antara lain: (1) Model Mintzberg, Drucker, dan Simon, (2) Model rasional, (3) model klasik, (4) model perilaku, (5) model Vroom dan Yetton, (6) model Carnegie, (7) model gaya kepemimpinan Chung dan Megginson, (8) model berdasarkan manfaat, (9) model berdasarkan masalah, (10) model berdasarkan lapangan, (11) model pohon masalah, (12) model strategis Hunger dan Wheelen. Weyne dan Miskel (2014), juga menjelaskan ada empat model pengambilan keputusan, yaitu (1) model klasik, (2) model administratif, (3) model inkremental, dan (4) model kontigensi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa ada enam model pengambilan keputusan, antara lain: (1) model Simon, (2) model rasional, (3) model klasik, (4) model perilaku, (5) model administratif, dan (6) model kontigensi. Berikut penjelasannya: Model Normatif Simon Model ini berusaha untuk mengindentifikasi proses yang benar-benar digunakan oleh para manajer saat membuat keputusan. Berbeda dengan model rasional, model normatif simon menganjurkan bahwa pengambilan keputusan ditandai dengan (1) pengelolaan informasi terbatas, (2) penggunaan penilaian hasil temuan sendiri, (3) pemuasan. Model informasi terbatas, para manajer dibatasi oleh seberapa informasi yang mereka olah karena rasionalitas terbatas. Hasilnya adalah kecenderungan untuk memperoleh lebih kepada jumlah informasi yang dapat dikelola daripada jumlah informasi yang optimal. Penilaian, merupakan petunjuk praktis atau jalan pintas yang digunakan orang untuk mengurangi tuntutan pengolahan informasi. Penggunaan hasil temuan sendiri dapat membantu para pengambil keputusan dalam mengevaluasi masalah-masalah yang ada saat ini. Pemuasan, orang-orang melakukan pemuasan karena tidak memiliki waktu, informasi atau kemampuan untuk menangani kompleksitas yang berkaitan dengan mengikuti sebuah proses rasional. Pemuasan merupakan sebuah pilihan atas sebuah solusi yang memenuhi beberapa persyaratan minimum, sesuatu yang “cukup baik”. pemuasan memecahkan masalah dengan menghasilkan solusi-solusi yang memuaskan, dibandingkan dengan yang optimal. Model Rasional Model rasional menganjurkan para manajer menggunakan empat langkah ketika membuat keputusan.Menurut model ini para manajer bersifat sepenuhnya ojektif dan memiliki informasi lengkap untuk membuat sebuah keputusan. Meskipun terdapat beberapa kritikan karena tidak realistis, model rasional mengandung pelajaran karena ia secara analitis merinci pengambilan keputusan dan tidak bertindak sebagai jangkar konseptual. Berikut dijelaskan empat langkah, antara lain: Mengenali masalah, sebuah masalah terjadi jika situasi aktual dan situasi yang diinginkan berbeda. Menghasilkan solusi, setelah mengenali masalah, langkah logisnya adalah menghasilkan solusi-solusi alternatif untuk menentukan sebuah keputusan. Memilih sebuah solusi, secara optimal para pengambil keputusan ingin memilih alternatif dengan nilai yang paling besar para ahli teori keputusan menyebut hal ini untuk memaksimalkan manfaat yang diharapkan dari suatu hasil. Mengimplementasikan dan mengevaluasi solusi. Setelah dipilih, suatu solusi maka perlu diimplementasikan. Setelah solusi diimplementasikan, tahap evaluasi menilai efektifitasnya. Jika solusi tersebut efektif, ia seharusnya mengurangi perbedaan antara keadaan aktual dengan keadaan yang diharapkan yang merupakan penyebab timbulnya masalah. Model Klasik Model pengambilan keputusan klasik berasumsi bahwa keputusan merupakan proses rasional ketika pengambilan keputusan diambil dari salah satu alternatif terbaik. Model klasik ini didasarkan pada konsep rasionalitas lengkap.Sesuai dengan model klasik, proses pengambilan keputusan dibagi atas enam langkah logis seperti, identifikasi masalah, menentukan alternatif, menilai alternatif, memilih alternatif, menerapkan alternatif, dan menilai keputusan alternatif. Model Administratif Hobert Simon (1957), merupakan tokoh pertama yang memperkenalkan model administratif pengambilan keputusan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang cara-cara aktual sekaligus ideal yang ditempuh oleh penyelenggara sekolah dalam mengambil keputusan organisasi (Wayne dan Miskel, 2014:491). Model Perilaku Model ini didasarkan pada seberapa jauh keputusan itu dapat memberikan kepuasan.Model ini juga mempertimbangkan pengambilan keputusan atas dasar rasionalitas kontekstual dan rasionalitas respektif.Rasionalitas kontekstual artinya keputusan tidak didasarkan oleh ketentuan tersurat, tetapi juga bersifat kontekstual.Pendekatan dasarnya adalah pemuasan artinya, menemukan solusi yang memuaskan, bukan yang terbaik. Model Kontigensi Model kontigensi adalah pendekatan yang paling cocok dengan situasi.Model administratif itu fleksibel dan heuristik.Keputusannya didasarkan pada perbandingan di antara konsekuensi alternatif dan tingkat aspirasi pengambilan keputusannya.Apabila solusi-solusi yang memuaskan tidak ditemukan, maka tingkat aspirasi pun diturunkan. Kurangnya waktu tentu saja, bisa memotong prosesnya dengan memaksakan pertimbangan atas opsi-opsi yang lebih sedikit (Wayne dan Miskel, 2014). Peran Pemimpin dalam Pengambilan Keputusan Kepemimpinan sesorang sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas seorang pemimpin.Pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku, mencerminkan karakter bagi seseorang pemimpin.Oleh karena itu untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil itu baik atau buruk tidak hanya dapat dilihat setelah konsekuensinya terjadi, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga: Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalis sesuatu yang tidak pasti atau berisiko, di sini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif. Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang menajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan. Pengambilan keputusan adalah proses memilih antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah. Proses pengambilan keputasan Proses pengambilan keputusan dalam praktiknya dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut ini: Identifikasi masalah Mengidentifikasi masalah Memformulasikan dan mengembangkan alternatif. Implementasi keputusan Evaluasi keputusan Tahapan-tahapan Pengambilan Keputusan Sementara itu, tahapan-tahapan pengambilan keputusan dapat dikemukakan sebagai berikut: Tetapkan masalah Identifikasi kriteria keputusan Alokasikan bobot pada criteria Kembangkan alternatif Evaluasi alternatif Pilih alternatif terbaik (VeithzalRivai, 2009:746). Pengambilan Keputusan oleh Pemimpin Berdasarkan pandangan tiga ahli yaitu Robins (1997); Drommond (1985); Mondy dan Premeaux (1995) dapat dirumuskan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternatif untuk menetapkan suatu tindakan yang ingin dilakukan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.Pengambilan keputusan merupakan proses memilih sejumlah alternatif pengambilan keputusan penting bagi manajer administrator karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi (Usman, 2013:440). Dari definisi pengambilan keputusan di atas, dapat dihapami betapa pentingnya seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan, sebab apabila dalam sebuah organisasi tidak ada pengambilan keputusan maka dipastikan organisasi tersebut tidak akan mengalami kemajuan, apalagi peningkatan kualitas organisasi, kendati pengambilan keputusan tersebut dimungkinkan menimbulkan resiko yang tidak diharapkan. Oleh karena itu dibutuhkan keahlihan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, sebab ketepatan pengambilan keputusan sangat mempengaruhi tercapainya tujuan organisasi.Pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih, sebab dalam pengambilan keputusan biasanya terdapat beberapa alternatif untuk dipilih yang terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia. Pengambilan keputusan juga bisa dipandang sebagai sebuah tindakan untuk menyelesaikan permasalahan. Biasanya keputusan diambil karena terdapat masalah yang harus dicarikan solusi, maka pengambilan keputusan sangat diperlukan agar masalah yang ada tidak berlarut-larut. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Didi Wahyu Sudirman (2003: 100), yang menunjukkan bahwa seorang manajer harus mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi secara cerdik dan berkualitas melalui pengambilan keputusan yang dilakukan secara cepat dan efektif. Dalam kontek dunia pendidikan misalnya kita ambil dalam satuan pendidikan sekolah, hampir setiap saat seorang pemimpin dalam hal ini seorang kepala sekolah selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah yang timbul yang harus diputuskan dalam rangka memecahkan masalah. Misalnya dalam suatu sekolah tertentu terdapat anak yang terlibat tawuran dengan anak-anak sekolah lain, di mana anak-anak yang terlibat tawuran adalah anak-anak yang sudah biasa melakukan tawuran dengan berbagai usaha untuk mencegahnya namun belum memberikan hasil yang signifikan, maka kepala sekolah sebagai pemimpin perlu menentukan langkah-langkah strategis mengatasi masalah agar tidak berlarut-larut. Mengacu teori yang diajukan oleh Veithzal Rivai maka kepala sekolah perlu menetapkan masalah, dalam arti mencari sumber masalah yang sesungguhnya, selanjutnya perlu mengidentifikasi masalah mengapa anak-anak itu terlibat tawuran, mengembangkan beberapa alternatif pemecahan untuk proses penyembuhan anak dari kebiasaan tawuran, kemudian melakukan berbagai evaluasi dari berbagai alternatif sehingga bisa menemukan alternatif terbaik dengan tujuan dapat menyembuhkan anak yang tersbiasa tawuran tanpa harus mengorbankan resiko yang tidak seharusnya dikeluarkan. Dalam praktiknya, tahapan-tahapan yang dikemukakan oleh Veithzal Rivai tersebut, dapat dilakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Marzuki (2015) yang meneliti tentang Pengambilan Keputusan Sekolah Melalui Manajemen Strategik pada SMP, yang menyimpulkan mekanisme pengambilan keputusan kepala sekolah pada SMP dilakukan melalui kegiatan identifikasi awal, merumuskan tujuan, alternatif solusi, menentukan kriteria pemilihan solusi, dan menentukan solusi sehingga menjadi keputusan. Ketika kepala sekolah diperhadapkan dengan pilihan pengambilan keputusan secara rasional dan emosional tentunya dalam mencari solusi agar anak-anak bisa menghilangkan kebiasaan tawuran biasanya lebih memilih pengambilan keputusan secara rasional dari pada secara emosional, walaupun mungkin saja alternatif emosional dipilih untuk mencari solusi, namun demikian biasanya pengambilan yang didasarkan rasional akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada pengambilan keputusan secara emosional. Pengambilan Keputusan yang Efektif dilakukan oleh Pemimpin Pengambilan keputusan yang efektif biasanya dibutuhkan dalam situasi yang mendesak. Agar dapat mengambil keputusan yang efektif, terdapat beberapa model pengambilan keputusan yang didasarkan pada sekumpulan asumsi yang berbeda dan menawarkan wawasan yang unik dalam proses pengambilan keputusan. Berdasarkan kajian literatur tentang model pengambilan keputusan yang efektif menurut tiga ahli yaitu Robert dan Kinicki (2005:5); Usman (2013:440); Weyne dan Miskel (2014) diperoleh simpulan bahwa terdapat beberapa model yang sama yaitu model Simon, model rasional, dan model klasik; namun demikian masih banyak model-model lain yang tidak sama yang dikemukakan oleh tiga ahli tersebut. Pandangan ketiga ahli di atas yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan suatu model. Hal itu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wayan R. Susila dan Ernawati Munadi (2007) mengenai Penggunaan Analytical Hierarchy Process Untuk Penyusunan Prioritas Proposal Penelitian, memperoleh hasil bahwa pengambil keputusan memerlukan model pengambilan keputusan yang dapat membantu mereka membuat pilihan secara komprehensif, logis, dan terstruktur. Pandangan diatas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rebekka Rismayanti (2016), apapun gaya partisipasi pengambilan keputusan akan menjadi tepat ketika pemimpin benar-benar memikirkan tujuan yang paling tepat dari suatu proses pengambilan keputusan, memperhatikan betul referensi informasi yang diperoleh secara komprehensif, serta mempertimbangkan kondisi yang terjadi sebelum mengambil suatu keputusan. Ketiga hal ini diperlukan agar gaya partisipasi dapat dipilih secara tepat sehingga keputusan yang diambil tidak menimbulkan kesalahpahaman, melainkan dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak yang melakukan proses komunikasi secara bisnis. Dari berbagai pengalaman empiris pengambilan keputusan tidak selalu hanya cocok dengan satu model tertentu, namun biasanya melihat situasi dan kondisi. Dalam keadaan tertentu bisa menggunakan model rasional, namun di situasi yang lain dimungkinkan menggunakan model simon atau model klasik. Pemimpin harus jeli melihat situasi yang ada bagaimana menentukan pilihan saat pengambilan keputusan, dan menggunakan model apa yang terbaik dalam pengambilan keputusan tersebut. Di sinilah diperlukan seni mengambil keputusan. Sementara itu, Veithzal Rivai (2009:746) mengemukakan tahapan-tahapan pengambilan keputusan yaitu meliputi: 1) Menetapkan masalah; 2) Identifikasi kriteria keputusan; 3) Alokasikan bobot pada kriteria; 4) Kembangkan alternatif; 5) Evaluasi alternatif; 5) Pilih alternatif terbaik. Pengaruh Pengambilan Keputusan yang Efektif bagi Kemajuan Organisasi Sebagai mana yang telah dipaparkan oleh Usman, Husaini (2013 : 312), bahwa kemajuan suatu organisasi dipengaruhi oleh cara pemimpin dalam mengambil keputusan. Telah dilakukan beberapa penelitian yang searah dengan pendapat Usman (2013) tersebut.Juliyanti, Mohammad Isa Irawan, dan Imam Mukhlash (2011) melakukan penelitian tentang Pemilihan guru Berprestasi menggunakan metode AHP-TOPSIS. Penelitian tersebut menghasilkan temuan yaitu adanya suatu sistem pengambilan keputusan dapat membantu proses pemilihan berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan sehingga bisa dilakukan proses perhitungan yang lebih efektif dan efesien. Penelitian senada dilakukan oleh Budiono (2014), tentang Pengaruh Komunikasi Organisasi, Kecerdasan Emosi dan Pengambilan Keputusan terhadap Implementasi Peran Kepemimpinan Kepala SD menemukan beberapa temuan yaitu: 1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada kecerdasan emosi yang dimiliki dan direalisasikan kepala sekolah terhadap implementasi peran kepemimpinan; 2) Pengambilan keputusan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap implementasi peran kepemimpinan sekolah dasar. Dengan kata lain, adanya pengambilan keputusan dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam suatu organisasi/lembaga. Wiwik Setyowati (2012) melakukan penelitian tentang Pengaruh Kepemimpinan, Komunikasi, Kerjasama Kelompok dan Pengambilan Keputusan terhadap Kinerja Guru dan Karyawan di SMK memperoleh hasil bahwa pengambilan keputusan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru dan karyawan. Oleh sebab itu faktor pengambilan keputusan perlu untuk dibina dan dipertahankan. Wiwik juga menambahkan peluang pemimpin untuk mendorong peningkatan pengambilan keputusan kerja guru dan karyawan dengan berlandaskan pada pemberdayaan guru dan karyawan serta pemberian kesempatan yang lebih luas kepada guru dan karyawan untuk bertindak atas inisiatif sendiri dengan melandasinya pada kebijakan otonomi daerah sudah sepantasnya untuk dimulai pelaksanaanya. Dari beberapa hasil penelitian di atas jelas bahwa pengambilan keputusan yang baik dapat meningkatkan kualitas organisasi, walaupun memang sering ada variabel perantara. Variabel perantara yang dimaksud adalah pengambilan keputusan yang baik, bisa berpengaruh bagi kemajuan tim kerja dalam sebuah organisasi, yang pada gilirannya kemajuan kinerja dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas organisasi itu sendiri. Misalnya kita mengambil contoh sebuah organisasi sekolah, kepala sekolah bisa mengambil keputusan yang baik yang bisa menggerakkan guru dan karyawan bisa meningkatkan kreativitas, inovasi, dan etos kerja maka dipastikan bahwa sekolah tersebut akan mengalami kemajuan, sangat berbeda bila seorang kepala sekolah tidak bisa mengambil keputusan dengan baik, bahkan keputusan yang diambil cenderung kontra produktif, misalnya melemahkan semangat guru dan karyawan, tidak memberikan suasana kreativitas guru dan karyawan maka dipastikan sekolah tersebut akan mengalami kesulitan berkembang yang artinya organisasi sekolah tidak akan mengalami peningkatan kualitas. Kesimpulan Dari berbagai uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa : Pemgambilan keputusan merupakan proses memilih sejumlah alternatif penting bagi pemimpin, karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi yang dilakukan oleh seorang pemimpin pada organisasi yang dia pimpin. Pengambilan keputusan juga bisa dipandang sebagai proses memilih dari berbagai alternatif untuk memecahkan masalah dalam rangka pencapaian tujuan sebuah organisasi. Pengambilan keputusan yang efektif perlu dilakukan oleh seorang pemimpin dalam sebuah organisasi. Dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin harus memperhatikan berbagai aspek, misalnya perlu memperhatikan situasi dan kondisi, memperhatikan berbagai model, gaya, proses dan tidak kalah pentingnya perlu memperhatikan metode serta tahapan-tahapan secara sistematis. Sebab proses pengambilan keputusan selalu terkait dengan proses memilih dari berbagai alternatif. Pengambilan keputusan yang efektif dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas organisasi yang dalam implementasinya bisa melalui variabel perantara misalnya meingkatnya kinerja, semangat, kreativitas dari orang-orang yang dipimpinnya. Saran-Saran Bagi para pemimpin sebuah organisasi dalam mengambil keputusan hendaknya memperhatikan berbagai aspek misalnya situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Memperhatikan berbagai model, gaya, proses, metode serta tahapan-tahapan pengambilan keputusan sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang efektif demi kemajuan organisasi yang di pimpin. Jakarta, 10 Desember 2018 Mayang Sari DAFTAR PUSTAKA Putra, Yananto Mihadi. (2018). Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen : Sistem Pengambilan Keputusan. FEB – Universitas Mercubuana: Jakarta. http://www.academia.edu/23350002/KEAMANAN_SISTEM_INFORMASI_PADA_PERUSAHAAN_PERTAMINA_EP_REGION_JAWA https://garudacyber.co.id/artikel/900-kelebihan-dan-kekurangan-manajemen-sistem-informasi-terhadap-organisasi-maupun-perusahaan https://blingjamong.wordpress.com/2013/11/18/1-1dampak-positif-dan-negatif-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-bidang-pendidikan-pemerintah-dan-ekonomi/ Anzizhan, Syafaruddin. Sistem pengambilan keputusan pendidikan.Ebook. Anonim. 2013. Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Organisasi (http://www.contohlengkap.com/2013/08/ diakses pada 23 Oktober 2016). Budiono. 2014. Pengaruh Komunikasi Organisasi, Kecerdasan Emosi dan Pengambilan Keputusan terhadap Implementasi Peran Kepemimpinan Kepala SD. Jurnal Akuntabilitas Manajemen, 2 (2):147-158. Didi Wahyu Sudirman. 2003. Pengambilan Keputusan sebagai Langkah Strategis Tugas Manajer. journal.uny.ac.id, 3(2): 93-101. ItaLizawati dan A Kistyanto. 2014. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Efektivitas Organisasi Melalui Pengambilan Keputusan.JurnalMahasiswa Teknologi, 1 (6): 1606-1618. Juliyanti, Mohammad Isa Irawan, dan Imam Mukhlash. 2011. Pemilihan Guru Berprestasi Menggunakan Metode Ahp dan Topsis. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 14 Mei 2011 Syiah Kuala. 2015. Pengambilan Keputusan Sekolah Melalui Manajemen Strategik Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandar Baru. Jurnal Magister Administrasi Pendidikan, 3(3): 58-67.

Senin, 03 Desember 2018

TUGAS SIM, MAYANG SARI, YANANTO MIHADI PUTRA, IMPLIKASI ETIS DARI TEKNOLOGI INFORMASI, 2018.

“IMPLEMENTASI / IMPLIKASI PERILAKU ETIS DARI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI” Donn Parker, (Dalam Reymond Mc.Leod Jr.:2001:121) menyatakan agar CIO mengikuti rencana 10 langkah dalam mengelompokkan perilaku dan menetapkan standar etika dalam perusahaan. 10 langakah tersebut adalah : 1. Formulasikan suatu kode perilaku. STIE DHARMAPUTRA SEMARANG DHARMA EKONOMI – NO. 38/ TH. XX/ OKTOBER 2013 2. Tetapkan aturan prosedur yang berkaitan dengan penggunaan jasa komputer untuk pribadi dan hak milik atas program dan data komputer. 3. Jelaskan sangsi yang akan diambil terhadap pelanggaran etika. 4. Kenali perilaku etis. 5. Fokuskan perhatian pada etika melalui program-program, pelatihan dan bacaan yang disyaratkan. 6. Promosikan UU kejahatan komputer dengan memberikan informasi kepada para karyawan perusahaan. 7. Simpan catatan formal yang menetapkan pertanggungjawaban tiap spesialis informasi untuk semua tindakannya, dan kurangi pelanggaran dengan program audit etika. 8. Dorong penggunaan program-program rehabilitasi yang memperlakukan pelanggar etika. 9. Dorong partisipasi dalam perkumpulan professional. 10. Berikan contoh etika Republik Indonesia semakin gencar menindak pelaku kejahatan komputer berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 (penyempurnaan dari UUHC No. 6 Tahun 1982 dan UUHC No. 12 Tahun 1997). Upaya ini dilakukan oleh pemerintah RI untuk melindungi hasil karya orang lain dan menegakkan etika dalam penggunaan komputer di Indonesia. Tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan dapat dilakukan dengan cara: (a) Mendengarkan dan menghormati pendapat karyawan. (b) Meminta input kepada karyawan. (c) Memberikan umpan balik positif maupun negatif. (d) Selalu menekankan tentang kepercayaan kepada karyawan. (e) Membiarkan karyawan mengetahui apa yang sebenarnya mereka harapkan. (f) Memberikan imbalan kepada karyawan yang bekerja dengan baik. (g) Memberi kepercayaan kepada karyawan. Len memperlakukan karyawan secara setara (fair) dan tidak membedakan suku, agama, ras dan antar golongan dalam segala aspek. Len menyadari bahwa karyawan mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan Perusahaan. Oleh karena itu setiap karyawan dituntut dapat berpartisipasi dan berperan aktif dengan jalan meningkatkan produksi dan produktivitas kerja melalui hubungan yang dinamis, harmonis, selaras, serasi dan seimbang antara Perusahaan dan karyawan. Dalam melaksanakan etika ini, Perusahaan: 1. Mengacu kepada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dalam hal kesejahteraan karyawan, penyediaan sarana dan prasarana kerja. 2. Melaksanakan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) secara konsisten. 3. Memastikan setiap karyawan telah mendapat sosialisasi isi PKB. 4. Menempatkan Ikatan Karyawan Len (IKL) sebagai mitra Perusahaan terkait dengan hubungan industrial. Latar Belakang dan Tata Perilaku (Code of Conduct) PT Len Industri (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berkomitmen untuk melaksanakan praktik-praktik Good Corporate Governance atau Tata Kelola perusahaan yang baik sebagai bagian dari usaha untuk pencapaian Visi dan Misi perusahaan. Penyusunan Code of Conduct ini merupakan salah satu wujud komitmen tersebut dan menjabarkan nilai-nilai dalam Budaya Kerja PT Len Industri (Persero) ke dalam interpretasi perilaku yang terkait dengan etika usaha dan tata perilaku. Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini disusun untuk menjadi acuan perilaku bagi Komisaris termasuk perangkatnya, Direksi dan karyawan sebagai Insan Len dalam mengelola perusahaan guna mencapai Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan melalui peningkatan daya saing dan memberikan nilai tambah kepada perusahaan. B. Tujuan Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) Penerapan Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini dimaksudkan untuk: a. Mengidentifikasikan nilai-nilai dan standar etika selaras dengan Visi dan Misi perusahaan. b. Menjabarkan Tata Nilai sebagai landasan etika yang harus diikuti oleh Insan Len dalam melaksanakan tugas. c. Menjadi acuan perilaku Insan Len dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dan berinteraksi dengan stakeholders perusahaan. d. Menjelaskan secara rinci standar etika agar Insan Len dapat menilai bentuk kegiatan yang diinginkan dan membantu memberikan pertimbangan jika menemui keragu-raguan dalam bertindak. C. Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan 1. Visi Perusahaan PT Len Industri (Persero) adalah satu-satunya BUMN yang bergerak dalam bisnis elektronika industri dan infrastruktur. Arah pengembangan perusahaan dijelaskan dalam visi perusahaan, yaitu: “Menjadi Perusahaan Elektronika Kelas Dunia”. Dengan penetapan visi tersebut, diharapkan perusahaan dapat beroperasi dengan standar bisnis internasional serta mampu bermain di pasar global. Usaha untuk mencapai visi perusahaan tersebut, tercermin dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan Tahun 2012–2016 dengan skenario pengembangan perusahaan yang dibagi dalam 3 (tiga) periode, yaitu: 1. Periode Penguatan Basis Manufaktur dan Bisnis Kontraktor/EPC (Engineering, Procurement dan Contractor) (2012) 2. Periode National Standard & Domestic Player (2013-2014) 3. Periode Global Standard & Regional Player (2015-2016) 2. Misi Perusahaan Misi perusahaan ditetapkan sebagai berikut: “Meningkatkan Kesejahteraan Stakeholder Melalui Inovasi Produk Elektronika Industri dan Prasarana “ Dengan misi tersebut perusahaan mempunyai komitmen untuk selalu meningkatkan benefit kepada seluruh stakeholder. Kepada pelanggan, perusahaan akan senantiasa memberikan layanan produk dan jasa dengan kualitas tinggi, harga yang kompetitif serta pelayanan yang memuaskan. Sedangkan kepada karyawan, perusahaan akan memberikan penghasilan yang baik, jaminan kelangsungan kerja, sistem karir yang memadai serta rasa kebanggaan kepada perusahaan. Kepada pemegang saham, perusahaan mempunyai komitmen untuk selalu meningkatkan dividen serta nilai pasar (market value) perusahaan. Demikian pula untuk stakeholderlainnya (masyarakat, pemerintah dan lain-lain), perusahaan akan memberikan benefit sesuai dengan porsinya. Faktor kunci sukses Len yang dijabarkan dalam misi tersebut adalah melakukan inovasi produk elektronika yang berorientasi pasar melalui perbaikan yang berkelanjutan (continuous product improvement) disertai penguasaan teknologi. Selanjutnya bidang elektronika yang menjadi garapan utama adalah produk elektronika industri (barang-barang modal untuk industri dan vendor item) serta elektronika prasarana (infrastruktur swasta/BUMN/Pemerintah). 3. Tujuan Perusahaan Tujuan perusahaan adalah : “Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional pada umumnya dan khususnya dalam bidang Industri Elektronika dan Prasarana, yang mencakup bidang-bidang Broadcasting, Multimedia, Teknologi Informasi, Elektronika Daya, Elektronika Energi, Jaringan Telekomunikasi, Sistem Pengendalian dan Pengaturan, Navigasi, Persinyalan Kereta Api, Elektronika Kelautan (Maritim), Elektronika Penerbangan (Avionics), Elektronika Pertahanan baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya, selanjutnya disebut Elektronika Industri dan Prasarana serta rekayasa di bidang keteknikan lainnya serta optimalisasi aset-aset Perseroan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.” D. Nilai Budaya Budaya Kerja PT Len Industri (Persero) adalah 442-ICE yang terdiri dari nilai-nilai untuk membangun : Personal Character. Nilai-nilai budaya 4-I : • Integrity (Integritas). Setiap insan memiliki pandangan dan pemikiran bahwa dirinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perusahaan dan selalu ingin bersikap jujur dan memberikan kontribusi positif kepada perusahaan. • Innovation (Inovasi). Setiap insan memiliki sikap kreatif dan dapat mengembangkan ide -ide (out of the box) serta mampu menjabarkan ide-ide tersebut secara operasional . • Independence (Independensi). Setiap insan memiliki kemandirian dalam berpikir, bertindak, bekerja dan berani mengambil keputusan dengan memperhitungkan risiko yang bertanggung jawab. • Insistence (Pantang Menyerah). Setiap insan memiliki semangat yang tinggi, gigih, pantang menyerah, dan berusaha keras untuk kepentingan perusahaan dan memiliki motivasi yang tinggi untuk mengembangkan perusahaan. Working Principle. Nilai-nilai budaya 4-C : • Customer Focus (Fokus Pada Pelanggan). Setiap insan fokus terhadap kebutuhan dan keinginan Pelanggan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut dalam mewujudkan kepuasan Pelanggan. • Continuous Improvement (Perbaikan Berkesinambungan). Setiap insan berusaha melakukan perbaikan -perbaikan terhadap kualitas produk dan jasa secara berkesinambungan. • Commitment (Komitmen). Setiap insan memiliki ikatan yang kuat terhadap pekerjaan dan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik. • Competence (Kompetensi). Setiap insan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan karyawanan dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan. Performance. Nilai-nilai budaya 2-E : • Effectiveness (Efektivitas). Setiap insan menghasilkan produk atau jasa yang sesuai dengan target atau standar ditinjau dari sudut kualitas, biaya, dan waktu. • Efficiency (Efisiensi). Setiap insan menghasilkan produk atau jasa dengan cara yang tepat, sehingga terjadi keseimbangan antara keluaran (output) dan masukan (input). E. Tanggung Jawab 1. Insan Len 1. Mempelajari secara detil Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) yang terkait dengan pekerjaannya. Setiap Insan Len harus memahami standar etika yang dituangkan dalam Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) ini; 2. Menghubungi atasan langsung, Unit Kerja Corporate Secretary, Unit Kerja Human Capital & General Affairs, atau pihak-pihak yang telah ditetapkan oleh Direksi, apabila Insan Len mempunyai pertanyaan mengenai pelaksanaan Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); 3. Segera membicarakan kepada pihak-pihak yang telah ditetapkan oleh Direksi, setiap dijumpai masalah mengenai kemungkinan pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); 4. Memahami prosedur yang dipakai untuk memberitahukan atau melaporkan kemungkinan pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); 5. Bersedia untuk bekerjasama dalam proses investigasi terhadap kemungkinan pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct). 2. Pemimpin Len 1. Membangun dan menjaga budaya kepatuhan terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) melalui: • Secara pribadi mendorong kepatuhan terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); • Melakukan pengawasan secara teratur mengenai program-program yang bertujuan untuk mendorong kepatuhan Insan Len terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); • Memberikan contoh yang baik dalam cara bersikap maupun dalam bertindak sehari-hari. 2. Memastikan bahwa setiap Insan Len mengerti bahwa ketaatan atas Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) sama pentingnya dengan pencapaian unjuk kerja. 3. Mendorong Insan Len untuk bertanya mengenai berbagai masalah integritas dan etika bisnis. 4. Mempertimbangkan masalah kepatuhan terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) dalam mengevaluasi dan memberikan penghargaan pada Insan Len. 5. Mencegah kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku Perusahaan (Code of Conduct) melalui upaya : • Memastikan bahwa risiko kemungkinan terjadinya pelanggaran atas Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) yang berhubungan dengan proses bisnis dapat diidentifikasi secara dini dan sistematis; • Melakukan identifikasi dan melaporkan sesuai prosedur yang ditetapkan terhadap kegiatan anak perusahaan, afiliasi serta mitra kerja yang dapat menimbulkan kemungkinan pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); • Memastikan dilaksanakannya pendidikan dan pelatihan tentang Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) bagi seluruh Insan Len, anak perusahaan, afiliasi dan melakukan sosialisasi kepada mitra kerja agar pihak-pihak tersebut mengerti dan memahami Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) secara menyeluruh. 6. Melakukan deteksi atas kemungkinan pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) melalui: • Menerapkan pengawasan melekat untuk memperkecil resiko kemungkinan terjadinya pelanggaran atas Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); • Menciptakan sistem pelaporan atas kemungkinan terjadinya pelanggaran atas Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) yang sesuai untuk melindungi kerahasiaan dari Insan Len yang melaporkan; • Memastikan dilaksanakannya evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) oleh Satuan Pengawasan Internal untuk menilai efektivitas pelaksanaan dan cara memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada. 7. Menindaklanjuti laporan kemungkinan terjadinya pelanggaran atas Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct) melalui: • Memperbaiki secara cepat kekurangan yang dijumpai dalam penilaian kepatuhan atas pelaksanaan Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (Code of Conduct); • Memberikan tindakan-tindakan indisipliner yang sesuai; • Melakukan konsultasi dengan Corporate Secretary cq Unit Kerja Legal dan Satuan Pengawasan Internal, serta Unit Kerja Human Capital & General Affairs jika pelanggaran terhadap Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku (iii) yang terjadi memerlukan campur tangan penegak hukum atau pihak yang berwajib. STANDAR ETIKA : Etika Perusahaan dengan Karyawan Len memperlakukan karyawan secara setara (fair) dan tidak membedakan suku, agama, ras dan antar golongan dalam segala aspek. Len menyadari bahwa karyawan mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan Perusahaan. Oleh karena itu setiap karyawan dituntut dapat berpartisipasi dan berperan aktif dengan jalan meningkatkan produksi dan produktivitas kerja melalui hubungan yang dinamis, harmonis, selaras, serasi dan seimbang antara Perusahaan dan karyawan. Dalam melaksanakan etika ini, Perusahaan: 1. Mengacu kepada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dalam hal kesejahteraan karyawan, penyediaan sarana dan prasarana kerja. 2. Melaksanakan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) secara konsisten. 3. Memastikan setiap karyawan telah mendapat sosialisasi isi PKB. 4. Menempatkan Ikatan Karyawan Len (IKL) sebagai mitra Perusahaan terkait dengan hubungan industrial. Etika Perusahaan dengan Pelanggan Len mengutamakan kepuasan dan kepercayaan pelanggan dengan: 1. Menjual produk sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan. 2. Membuka layanan pelanggan dan menindaklanjuti keluhan pelanggan tanpa melakukan diskriminasi terhadap pelanggan. 3. Melakukan promosi yang berkesinambungan secara sehat, fair, jujur, tidak menyesatkan serta diterima oleh norma-norma masyarakat. Etika Perusahaan dengan Pesaing Len menempatkan pesaing sebagai pemacu peningkatan diri dan introspeksi dengan cara: 1. Melakukan market research dan market intelligent untuk mengetahui posisi pesaing. 2. Melakukan persaingan yang sehat dengan mengedepankan keunggulan produk dan layanan yang bermutu. Etika Perusahaan dengan Pemasok Len meningkatkan iklim saling percaya, menghargai, dan memupuk kebersamaan dengan pemasok sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku dengan cara : 1. Menetapkan penyedia barang dan jasa berdasarkan kepada kemampuan dan prestasi. 2. Melaksanakan pembayaran kepada penyedia barang dan jasa dengan tepat waktu dan tepat jumlah. 3. Menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap penyedia barang dan jasa yang melakukan pelanggaran. 4. Memelihara komunikasi yang baik dengan penyedia barang dan jasa termasuk menindaklanjuti keluhan dan keberatan. 5. Menerapkan teknologi pengadaan barang dan jasa terkini (misalnya e-procurement). Etika Perusahaan dengan Mitra Kerja Len meningkatkan iklim saling percaya, menghargai, dan memupuk kebersamaan dengan mitra kerja sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku dengan cara: 1. Membuat perjanjian kerja yang berimbang dan saling menguntungkan dengan mitra kerja dan tidak melanggar aturan dan prosedur. 2. Mengutamakan pencapaian hasil optimal sesuai standar yang berlaku dan terbaik. 3. Membangun komunikasi secara intensif dengan mitra kerja untuk mencari solusi yang terbaik dalam rangka peningkatan kinerja. Etika Perusahaan dengan Kreditur /Investor Len menerima pinjaman/penanaman modal hanya ditujukan untuk kepentingan bisnis dan peningkatan nilai tambah Perusahaan dengan cara: • Menyediakan informasi yang aktual dan prospektif bagi calon kreditur/investor. • Memilih kreditur/investor berdasarkan aspek kredibilitas dan bonafiditas yang dapat dipertanggungjawabkan. • Menerima pinjaman/penanaman modal yang diikat melalui perjanjian yang sah dengan klausul perjanjian yang mengedepankan prinsip kewajaran (fairness). • Berkomitmen untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur/Investor sesuai perjanjian yang telah disepakati bersama. • Melakukan atau tidak melakukan sesuatu untuk melindungi kepentingan kreditur/Investor sesuai perjanjian yang telah disepakati bersama. • Berkomitmen melaksanakan kegiatan bisnis dengan sebaik-baiknya dan berhasil dalam upaya memberikan imbal balik yang wajar kepada investor. • Menghindari benturan kepentingan dengan kreditur/investor. • Mendasarkan hubungan dengan kreditur/investor pada persamaan, kesetaraan dan saling percaya • Memberikan informasi tentang penggunaan dana untuk meningkatkan kepercayaan kreditur/investor. • Menjajaki peluang bisnis dengan kreditur/Investor untuk meningkatkan pertumbuhan Perusahaan. Etika Perusahaan dengan Pemerintah Len berkomitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan cara: 1. Membina hubungan dan komunikasi yang baik dengan Pemerintah Pusat dan Daerah. 2. Menerapkan standar terbaik (best practices) dengan memperhatikan peraturan yangberlaku mengenai kualitas produk, kesehatan, keselamatan, lingkungan dan pelayanan. Etika Perusahaan dengan Masyarakat Len melaksanakan program tanggung jawab sosial dan dapat bersinergi dengan program-program Pemerintah terkait, dengan cara: 1. Memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin mengetahui kegiatan-kegiatan Perusahaan dalam batas tertentu. 2. Mengoptimalkan penyaluran program-program bantuan Perusahaan kepada masyarakat. 3. Melarang karyawan memberikan janji-janji kepada masyarakat di luar kewenangannya. 4. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada diskriminasi masyarakat berdasar suku, agama, ras dan antar golongan. Etika Perusahaan dengan Media Massa Len menjadikan media massa sebagai mitra dan alat promosi untuk membangun citra yang baik dengan: 1. Memberikan informasi yang relevan dan berimbang kepada media massa. 2. Menerima dan menindaklanjuti kritik-kritik membangun yang disampaikan melalui media massa, namun tetap memperhatikan aspek risiko dan biaya. 3. Mengundang media massa untuk mengekspose berita tentang Perusahaan. Etika Perusahaan mengenai keterbukaan dan kerahasiaan informasi Perusahaan berkomitmen untuk mengungkapkan informasi bersifat material yang penting dalam pengambilan keputusan kepada pihak berkepentingan. Pengungkapan informasi material dan relevan tentang perusahaan kepada stakeholders perusahaan merupakan hal penting untuk penerapan transparansi dan pembentukan citra yang baik bagi perusahaan. Namun informasi yang berakibat menurunkan daya saing perusahaan tidak diperkenankan untuk diungkapkan. Etika Perusahaan dengan Organisasi Profesi Len menjalin kerjasama yang baik dan berkelanjutan dengan organisasi profesi untuk memperoleh informasi perkembangan bisnis, mendapatkan peluang bisnis dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan: 1. Menerapkan standar-standar yang ditetapkan organisasi profesi. 2. Memberikan perlakuan yang setara terhadap organisasi profesi. STANDAR TATA PERILAKU Persamaan dan Penghormatan pada Hak Asasi Manusia 1. Hak asasi manusia adalah suatu yang bersifat universal. Len senantiasa mendorong usaha-usaha untuk menjamin terpenuhinya hak asasi manusia. 2. Len berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap kegiatan operasi perseroan tidak melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia dan masyarakat sekitar. Etika Kerja Sesama InsanLen Etika kerja antar sesama InsanLen dilandasi dengan: 1. Bekerja profesional dan sadar biaya untuk menghasilkan kinerja yang optimal. 2. Jujur, sopan dan tertib. 3. Saling menghargai, terbuka menerima kritik dan saran serta menyelesaikan masalah denganmusyawarah mufakat. 4. Saling membantu, memotivasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. 5. Mengkomunikasikan setiap ide baru dan saling mentransfer pengetahuan dan kemampuan. 6. Mengambil inisiatif dan mengembangkan kompetensi dalam melaksanakan tugas. 7. Berani mendiskusikan kebijakan yang kurang tepat untuk melakukan koreksi yang konstruktif secara santun. 8. Menghargai perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Menjaga Kerahasiaan Data dan Informasi Perusahaan Insan Len memanfaatkan data dan informasi perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan dan pengambilan keputusan dengan cara: 1. Menggunakan sistem keamanan data yang memadai. 2. Memberikan informasi yang relevan dan proporsional kepada stakeholders dengan tetap mempertimbangkan kepentingan perusahaan. 3. Menghindari penyebarluasan data dan informasi kepada pihak lain yang tidak berkepentingan baik selama bekerja maupun setelah berhenti bekerja. 4. Menyerahkan semua data yang berhubungan dengan perusahaan pada saat berhenti bekerja. 5. Menjaga kerahasiaan informasi tentang pelanggan. Menjaga Aset Perusahaan Insan Len mengoptimalkan penggunaan Aset perusahaan dengan cara: 1. Bertanggung jawab atas pengelolaan aset perusahaan dan menghindarkan penggunaannya diluar kepentingan perusahaan. 2. Mengamankan harta perusahaan dari kerusakan dan kehilangan. 3. Melakukan penghematan pemakaian energi. Penghormatan atas hak kekayaan intelektual 1. Insan Len wajib menghormati hak kekayaan intelektual pihak lain karena setiap penggunaan yang tidak sah atas hak milik intelektual orang lain dapat mengakibatkan Len menanggung gugatan hukum dan ganti rugi; 2. Setiap insan Len harus berpartisipasi secara aktif untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual milik Len; Menjaga Keamanan dan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Insan Len menjadikan keamanan dan K3L sebagai bagian dari budaya kerja untuk menciptakan suasana kerja yang tertib, aman, handal, nyaman dan berwawasan lingkungan dengan cara: 1. Len berkomitmen untuk mencapai standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Perseroan (K3LH) yang tinggi; 2. Pencapaian standar yang tinggi atas implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Perseroan tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh Insan Len. Mencatat Data dan Pelaporan Insan Len mengelola data secara rapi, tertib, teliti, akurat dan tepat waktu dengan cara: 1. Mencatat data dan menyusun laporan berdasarkan sumber yang benar dan dapatdipertanggungjawabkan. 2. Menyajikan laporan secara singkat, jelas, tepat, komunikatif untuk dipergunakan dalam pengambilan keputusan dan sebagai umpan balik guna perbaikan kinerja. 3. Tidak menyembunyikan data dan laporan yang seharusnya disampaikan. Benturan Kepentingan 1. Benturan kepentingan adalah situasi di mana Insan Len karena kedudukan dan wewenang yang dimilikinya dalam Perseroan, mempunyai kepentingan pribadi yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas yang diamanatkan oleh Perseroan secara obyektif. Benturan kepentingan timbul karena adanya perbedaan antara kepentingan ekonomis pribadi atau keluarga dengan kepentingan ekonomis Perseroan; 2. Setiap Insan Len harus menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan dengan Perseroan, seperti menerima hadiah atau manfaat (termasuk segala bentuk penyuapan dan kick back), menyalahgunakan sumber daya atau pengaruh Len sehingga dapat mendiskreditkan nama baik dan reputasi Len, memanfaatkan aset Persero untuk kepentingan pribadi, melakukan pekerjaan dimana Insan Len dapat terdorong untuk melakukan pekerjaan tersebut selama jam kerja aktif Len atau menggunakan peralatan atau material dari Len terlibat dalam pengelolaan perseroan pesaing dan lain-lain; 3. Len menghormati hak dari setiap Insan Len untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan keuangan, usaha maupun kegiatan lain yang sah diluar pekerjaan Insan Len dengan syarat bahwa kegiatan tersebut harus sah dan bebas dari benturan kepentingan dengan tanggung jawab mereka sebagai Insan Len; 4. Insan Len berkewajiban untuk mengungkapkan atas setiap keterlibatannya dalam kegiatan keuangan, kegiatan usaha maupun kegiatan lain diluar pekerjaannya di Len kepada atasan langsung dan Unit Kerja Human Capital ; 5. Direksi, komisaris dan pejabat setingkat di bawah Direksi wajib melaporkan kepada instansi yang berwengang sesuai dengan peraturan yang berlaku tentang kegiatan yang dilakukannya atau dilakukan keluarganya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan dengan Perseroan; 6. Pengertian keluarga adalah hubungan keluarga yang terjadi karena keturunan atau perkawinan sampai dengan derajat kedua baik secara horizontal maupun vertikal. Yang dimaksud dengan hubungan karena keturunan adalah orang tua, anak, kakek, nenek, cucu, saudara langsung dan saudara kandung dari orang tua. Yang dimaksud dengan hubungan karena perkawinan adalah suami atau istri, suami dan istri dari cucu dan saudara ipar beserta suami atau istrinya. Pembayaran Tidak Wajar 1. Insan Len dilarang untuk menawarkan dan atau memberikan sesuatu yang berharga untuk memperoleh suatu keuntungan yang tidak wajar atau perlakuan istimewa dalam melakukan penjualan atas barang atau pemberian jasa atau melakukan transaksi keuangan kepada pejabat Pemerintah atau pihak-pihak di luar Len; 2. Kebijakan Pembayaran Tidak Wajar mengatur standar etika dan praktek Len mengenai pembayaran khusus dan sumbangan politis, baik kepada pejabat Pemerintah maupun pihak-pihak di luar Len; 3. Len tidak mentolerir praktek-praktek yang tidak memenuhi kebijakan ini. Len akan memproses lebih lanjut pelanggaran atas kebijakan ini sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Hadiah dan Hiburan 1. Penerimaan dan pemberian hadiah, hiburan atau bantuan dalam pekerjaan, akan dapat menyebabkan benturan kepentingan serta turunnya kepercayaan publik terhadap integritas Perseroan; 2. Insan Len dilarang menerima atau memberikan hadiah baik bentuk uang maupun barang atau segala bentuk hiburan dalam kondisi yang dapat menimbulkan pandangan ketidakwajaran; 3. Len menetapkan standar etika yang mengatur secara khusus mengenai penerimaan dan pemberian hadiah atau hiburan dari pihak ketiga di luar Perseroan. Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Terlarang (Narkoba) dan Minuman Keras (Miras) Insan Len bebas dari penyalahgunaan narkoba dan miras. Aktivitas Politik Insan Len bersikap netral terhadap semua partai politik dengan cara: 1. Tidak menggunakan fasilitas Perusahaan untuk kepentingan golongan/partai politik tertentu. 2. Tidak merangkap jabatan sebagai pengurus partai politik dan/ atau anggota legislatif. 3. Tidak membawa, memperlihatkan, memasang, serta mengedarkan simbol, gambar dan ornamen partai politik di lingkungan Perusahaan. Perdagangan Internasional Sebagai Perseroan yang mempunyai visi untuk menjadi perseroan elektronika kelas dunia, Len selalu berusaha untuk menghormati segala ketentuan hukum dan peraturan internasional yang berkaitan dengan perdagangan internasional, termasuk masalah perjanjian, transaksi perdagangan dan kerjasama strategis. karyawan diharapkan akan meningkat. Media komunikasi internal tersedia dalam berbagaiformat:1. Internal Portal “Tell Us About Us”. Portal internal bersifat komunikasi dua arah yangmengandung unsur partisipatif dan involvement karyawan.2. E-mail Blast “Corporate Information”. Broadcast message melalui e-mail kepadaseluruh karyawan PT GI berisi informasi terkait pesan Manajemen, pengumuman penting termasuk pada situasi krisis, peristiwa, program dan pencapaian PT GI.3. Internal Magazine “View”. Majalah khusus internal yang terbit secara periodikmemuat artikel bersifat indepth, mengangkat ‘suara’ karyawan, destinasi hinggaartikel lepas yang menambah mwawasan karyawan.4. Poster. Pesan visual yang ditempatkan di area kerja karyawan dan dimuat di mediakomunikasi internal.Selain media internal, PT GI juga memastikan bahwa komunikasi eksternal berjalandengan efektif dan tepat sasaran guna meningkatkan reputasi dan kepercayaan publik terhadapGaruda Indonesia. Akses informasi dan data mengenai PT GI dapat diakses publik melaluimedium sebagai berikut:1. Deployment Press Release. Informasi tertulis yang disampaikan kepada media berkaitan dengan perkembangan terbaru atas kinerja, aksi dan rencana PT GI.2. Landing Page “Press Release” di PT GI Halaman khusus di situs Garuda Indonesiayang memuat rencana bisnis PT GI.3. Akun Media Sosial • Twitter(www.twitter.com/IndonesiaGaruda) • Facebook (www.facebook.com/ PT.GarudaIndonesia) • YouTube4. Inlight Magazine “Colours”. Majalah khusus yang didistribusikan di seluruh penerbangan Garuda Indonesia, baik domestik maupun internasional. D.Landasan Penerapan CSR dan PKBL Dalam pelaksanaan CSR dan PKBL, Garuda Indonesia senantiasa berpedoman padaketentuan dalam berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku berikut ini:1. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 mengenai Garuda Indonesia Terbatas2. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen3. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan4. Permen BUMN No. PER-03/MBU/12/2016 19 Desember 20165. Permen BUMN No. PER-09/MBU/07/2015 tanggal 3 Juli 20156. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung JawabPengangkut Angkutan UdaraSelain itu landasan regulasi di atas, Perseroan juga merumuskan dan menjalankanaktivitas CSR-nya dengan mengacu pada standar ISO 26000 yang berisi tentang panduan 14 praktik- praktik tanggung jawab sosial dalam aspek akuntabilitas, transparansi, perilaku etis, penghormatan kepada kepentingan stakeholder, kepatuhan pada hukum, penghormatan padanorma perilaku internasional, dan penegakan hak asasi manusia. Visi dan Misi CSR Untuk terus mewujudkan tumbuh kembang yang berkualitas dan memenuhi harapanseluruh pemangku kepentingan, Perseroan melandaskan implementasi tanggung jawabsosialnya dalam visi dan misi berikut ini.Visi: Menjadi pengelola Corporate Social Responsibility yang efektif dan tepat guna sehinggamemberikan dampak positif terhadap masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.Misi: Berkomitmen dalam pemberdayaan ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat diIndonesia melalui program berkelanjutan yang inovatif. V. HASIL PENELITIAN Dari pembahasan mengenai niali etika bisnis dan budaya yang tumbuh dalam manajemenPT GI, dapat kita lihat bahwa PT GI sudah sesuai aturan dan prinsip nilai etika bisnis yang baik. Berbagai macam bentuk pengelolaan PT GI telag ditempuh demi dapat memberikansemua pihak yang bersangkutan, baik itu internal maupun eksternal.Manajemen kelayakan udara dilakukan untuk dapat melayani masyarakat dalam maupunluar negeri dengan cara yang professional dan berkualitas. Keandalan keberangkatan armadadilakukan guna mengurangi tingkat dispatch reliability. Selain itu, dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan praktik GCG, PT GI telah merumuskan kebijakan terkaitkode etik berupa Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja yang berperan sebagai pedomanstandar sikap dan perilaku dalam pelaksanaan segenap aktivitas bisnis sekaligus pencapaianvisi dan misi PT GI.Salah satu budaya perusahan yang telah melekat adalah budaya ”SINCERITY” dimana budaya tersebut diharapkan menjadi panduan bagi seluruh insan PT GI dalam melaksanakantugas dan tanggung jawabnya dalam usaha mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan.Terdapat juga beberapa program untuk mengendalikan gratifikasi, program pencegahan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dan telah melekatnya buadaya keterbukaanguna memudahkan komunikasi dan akses untuk para pemangku kepentingan. Selain itu, PTGI juga menjalankan program CSR guna dapat memberikan dampak positif terhadapmasyarakat, lingkungan, dan perusahaan. Kesimpulan Etika bisnis sangatlah diperlukan oleh perusahaan dan setiap individu di dalam perusahaan,guna dapat mencapai visi dan misi perusahaan. Perusahaan yang ingin pencapai kestabilan bisnis dan dapat berkompetisi adalah perusahaan yang menjunjung tinggi etika bisnis. KarenaPerusahaan yang memiliki komitmen yang tinggi dalam menjaga etika bisnisnya akanmemiliki konsumen yang cenderung loyal sehingga visi dan misi perusahaan akan lebihmudah dicapai. Saran Lebih diperketatnya aturan dan kontrol serta evaluasi dari pemerintah dalam proses penerapanetika bisnis yang baik dalam setiap perusahaan di Indonesia, baik itu perusahaan milik dalamatau luar negeri. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa masih terdapat banyak perusahaanyang menurut masyarakat luas, telah memberikan dampak buruk bagi masyarakat,lingkungan, dan negara. Tentunya hal tersebut sangan bertolak belakang dengan etika bisnisdan norma-norma yang ada. Oleh karena itu, peran pemerintah, serta didukung olehmasyarakat, sangat penting bagi kelancaran penarapan etika bisnis di Indonesia. Jakarta, 03 Desember 2018 Mayang Sari DAFTAR PUSTAKA Putra, Yananto Mihadi. (2018). Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen : Implikasi Etis dari Teknologi Informasi. FEB – Universitas Mercubuana: Jakarta. http://www.academia.edu/23350002/KEAMANAN_SISTEM_INFORMASI_PADA_PERUSAHAAN_PERTAMINA_EP_REGION_JAWA https://garudacyber.co.id/artikel/900-kelebihan-dan-kekurangan-manajemen-sistem-informasi-terhadap-organisasi-maupun-perusahaan https://blingjamong.wordpress.com/2013/11/18/1-1dampak-positif-dan-negatif-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-bidang-pendidikan-pemerintah-dan-ekonomi/ https://www.len.co.id/tata-kelola-perusahaan/standar-etika-usaha-dan-tata-perilaku/ http://www.academia.edu/34861008/PENERAPAN_NILAI_ETIKA_BISNIS_Studi_Pada_PT_Garuda_Indonesia_Tbk_Periode_2016_Makalah_ini_dibuat_untuk_memenuhi_salah_satu_tugas_mata_kuliah_Business_Ethics_and_Good_Governance

Rabu, 21 November 2018

TUGAS SIM, MAYANG SARI, YANANTO MIHADI PUTRA, IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI, 2018.

“IMPLEMENTASI MANAJEMEN KEAMANAN INFORMASI PADA PERUSAHAAN UNTUK MENDAPATKAN KERAHASIAAN, KETERSEDIAAN, SERTA INTEGRITAS PADA SEMUA SUMBER DAYA INFORMASI PERUSAHAAN BUKAN HANYA PERANTI KERAS DAN DATA, DISERTAI DENGAN CONTOH KASUSNYA” Bagaimana Implementasi penerapan manajemen keamanan informasi pada perusahaan? a. Manajemen Resiko dibuat untuk menggambarkan pendekatan ini di mana tingkat kemanan sumber daya informasi perusahaan dibandingkan dengan resiko yang dihadapinya. Terdapat pilihan lain untuk merumuskan kebijakan keamanan informasi suatu perusahaan, yaitu tolok ukur keamanan informasi. Contoh penerapannya: PT. Angkasa Pura I (Persero) adalah penambahan utang untuk struktur modal. Penambahan utang akan menambah risiko Perseroan, jika tidak dapat terpenuhi dapat berujung pada hilangnya aset atau kerusakan nama baik. Serta terdapat ketidakpastian apakah Perseroan dapat membayar hutang dengan tepat waktu serta sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui sebelumnya, terutama jika terjadi sesuatu yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya (unforeseen circumstances). Namun penambahan utang akan menambah modal untuk proses bisnis, dan meningkatkan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return). b. Manajemen Tolok Ukur adalah tingkat keamanan yang disarankan yang dalam keadaan normal harus menawarkan perlindungan yang cukup terhadap gangguan yang tidak terotorisasi. Tolok ukur semacam ini ditentukan oleh pemerintah dan asosiasi industri. Ketika perusahaan mengikuti pendekatan ini, yang disebut kepatuhan terhadap tolok ukur (benchmark compliance) , dapat diasumsikan bahwa pemerintah dan otoritas industri telah melakukan pekerjaan yang baik dalam mempertimbangkan berbagai ancaman serta resiko dan tolok ukur tersebut menawarkan perlindungan yang baik. Apa dampak positif dan negatif dari penerapan manajemen keamanan informasi? Positif : Pesatnya perkembangan media digital secara nyata akan membawa suatu pola pikir, sikap dan tindakan / prilaku bagi setiap individu. Dalam wacana praktis, perubahan tersebut paling tidak akan membawa individu ke dalam pola hidup yang menurutnya efektif dan efesien. Alasan dasar inilah bagi para kaum kosmopolitan bahwa perkembangan media digital merupakan media pencerah peradaban yang lebih maju. Yang jelas pada aras ini, perkembangan media digital akan membawa dampak positivisme sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Seperti yang dikutip oleh Zulkarimien Nasution Dalam bukunya Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif, suatu lokakarya kebijakan komunikasi yang bertema “The power of the individual in the information age” di Aspen Istitute, Colorado, Amerika, dimana media digital sebagai sebuah aset terutama dalam hal revolusi teknologi komunikasi dan informasi, maka ada kecendrungan membawa harapan-harapan berupa: 1. Sebagai Media Pengambilan Keputusan Peran Manajemen Sistem Informasi sangatlah penting di dalam pengambilan keputusan Greader, baik itu pada sebuah organisasi maupun perusahaan. Bagaimana tidak, dengan adanya sistem informasi kita langsung dapat mengetahui konsekuensi dari hasil keputusan tersebut yang akan di terapkan nantinya di dalam menjalankan operasional perusahaan maupun organisasi. Dilihat dari dampak positif maupun negatif yang akan di alami oleh satu pihak atau mungkin bahkan kedua belah pihak dalam menjalankan organisasi maupun perusahaannya. 2. Sebagai Media Penyedia Data Dilihat dari peran Sistem Informasi sebagai penyedia Data, maka Sistem Informasi Greader juga di tuntut untuk memberikan atau menyediakan informasi penting kepada organisasi maupun perusahaan tersebut guna untuk memberikan referensi perusahaan maupun organisasi bagaimana menjalankan perusahaan maupun organisasi dengan baik juga Greader. 3. Sebagai Media Komunikasi Sistem Informasi ini Greader juga bertindak sebagai alat komunikasi pihak internal maupun eksternal pada organisasi tersebut. Pihak internal merupakan hubungan komunikasi yang terjadi hanya di dalam organisasi itu saja, contohnya hubungan antara karyawan dengan karyawan ataupun bawahan dengan atasannya, sedangkan pihak eksternal yaitu komunikasi yang menghubungkan antara pihak organisasi dengan pihak / orang-orang yang melakukan kerja-sama dengan organisasi tersebut, contohnya hubungan kerja sama antar organisasi baik itu dalam bentuk bisnis maupun dalam mewujudkan suatu tujuan yang ada pada masing-masing organisasi tersebut. Komunikasi pihak eksternal juga menghubungkan antar perusahaan dengan masyarakat, apabila perusahaan tersebut sebagai penyedia jasa. Biasanya berisi tentang keluhan masyarakat pelayanan organisasi maupun perusahaan, maupun saran dan kritik dari masyarakat kepada perusahaan dan organisasi tersebut. 4. Sebagai Media Penyimpanan Terbesar Kelebihan yang di miliki manajemen sistem informasi sangatlah banyak Greader, salah satunya yang menjadi alasan utama organisasi dan perusahaan menerapkan manajemen sistem informasi ini pada perusahaan maupun organisasinya adalah media penyimpanan yang mampu menyimpan data/informasi dalam jumlah yang sangat besar Greader, baik itu dalam bentuk ruang yang kecil namun pengguna dapat dengan mudah untuk mengaksesnya. Organisasi maupun perusahaan yang berskala kecil dan besar pasti membutuhkan media penyimpanan yang besar guna untuk berpartisipasi dalam operasional perusahaan maupun organisasi. 5. Hemat Manfaat dari penerapan Manajemen Sistem Informasi terhadap organisasi maupun perusahaan yang paling terasa Greader yaitu pada biaya operasional yang jauh lebih murah daripada pengerjaan yang dilakukan secara manual. Dalam kasus yang ini Greader, manusia tergantikan oleh teknologi-teknologi yang telah ada. 6. Kebebasan dan kompetensi individual akan ditingkatkan: • Kemajuan dalam pengolahan informasi dapat memperluas daya bakat dan kemampuan manusia (human talent). Seyogiyannya beasiswa atau programlainya digunakan untuk “ mendorong kecapatan adaptasi” untuk membujuk masyarakat dari lapangan yang berbeda agar belajar begaimana menggunakan dan memetik manfaat dari teknologi infomasi. • Sistem-sistem yang baru akan menjamin kenyamanan pribadi yang lebih besar pada individu, suatu rumah yang lebih aman, dan bahkan” kesepian yang lebih bekurang.” • Masyarakat akan menulis lebih baik dan lebih cepat dan menyimpan dan berhubungan dengan ide sacara lebih baik, terima kasih kepada pengolah kata (word-processors). • Individu akan menikmati bukan sekedar effisiensi yang lebih tinggi dalam melakukan tugas harian, tapi interaksi yang lebih besar dengan orang dan kepentingan yang lain, jadi merangsang kreatifitas dan partisipasi pribadi. • Pendidikan dapat dibuat lebih demokratis: metoda mengajar dengan menggunakan computer akan bersifat responsive kepada individu, kepada kebutuhan dan gaya belajar siswa tertentu. • Karakteristik sebagian besar dari penanganan informasi saat ini yang membosankan akan dapat disembuhkan, membebaskan untuk menggunakan waktu pada kreatifitas yang tinggi. 7. Kemajuan yang berikutnya akan memperkokoh ekonomi: • Teknologi yang lebih efesien akan membantu pekerjaan informasi lebih produktif. • Teknologi dapat menjadi subsitusi yang bersih dan energy-lean bagi proses-proses lain yang menimbulkan polusi dan menghabiskan sumber daya enerji. • Informasi pasar lebih mudah diperoleh, menghasilkan transaksi yang lebih efesien dan langkah yang lebih persis untuk memperbaiki kegagalan. • Penyampaian jasa akan menjadi lebih murah, sebab sistem baru memperluas “kehadiran” penyedia jasa dan membantu dalam membangkitakan pasar. • Dengan berkurangya ketidakpastian, penyesuaian perniagaan dan pemerintah kepada kondisi yang baru akan bertambah cepat dan lebih efektif. 8. Tawaran dari media akan menyajikan suatu rentang minat dan selara yang luas • /Berkembangnya biaknya saluran media ke rumah. • Sistem-sistem baru seperti videoteks akan memudahkan biaya dan keikutsertaan dalam kompetisi media dan jasa informasi baru, membuat bertambah mendekatnya masa dimana “ setiap orang merupakan penerbit sendiri.” • Konvergensi dari teknologi akan menuju suatu fleksibilitas modes komunikasi yang lebih besar, seperti telah dicontohkan oleh mulainya suratkabar ke dalam bentuk penyampaian digital yang berbentuk khusus. 9. Ikatan Komunitas akan bertambah luas dan kokoh: • Media interaktif akan memperluas respon terhadap kebutuhan manusia. • Computer akan membuat sistem informasi yang saat sekarang masih incompatible menjadi compatible. Negatif: Bagi cara pandang kaum fundamental akan sangat berbeda dengan kaum kosmopolitan. Mereka menganggap pesatnya pekembangan media digital sebagai salah satu faktor yang dapat mengaakibatkan perbenturan budaya. Dalam pandangan Mark Slouka, ini seperti sebuah paradoks. Di satu pihak, media digital dapat membuka cakrawala dunia yang sangat menjanjikan yang kaya warna, kaya nuansa, kaya citra, namun disisi lain ini akan menjadi sebuah dunia yang seakan-akan tanpa kendali. Karenanya menurut hemat saya, dampak pesatnya media digital paling tidak akan membawa beberapa dampak perubahan negatif seperti: 1. Bertambahnya angka pengangguran Kelemahan Manajemen Sistem Informasi terhadap perusahaan dan Organisasi ialah memberikan dampak untuk lingkungan sosial seperti pengurangan tenaga kerja yang dapat menimbulkan bertambahnya angka pengangguran. Tergantinya manusia sebagai tenaga kerja dengan teknologi-teknologi yang telah ada. 2. Keamanan yang mengharuskan untuk canggih Adanya media penyimpanan data-data dan informasi yang bersifat penting dan tersimpan pada satu server / database mengharuskan adanya keamanan yang canggih guna untuk menghindari kehilangan data/informasi penting tersebut dari perilaku orang - orang yang memiliki niat kejahatan dan menguntungkan diri sendiri. 3. Data tampering, dimana si pelaku melakukan pencurian data. Serangan yang paling umum pada sistem komputer. 4. Program yang sengaja diberikan yang didalamnya terdapat virus yang dapat merusak komputer. 5. Membudayanya budaya massa dalam suatu komunitas masyarakat, dimana pola kehidupan yang dinamis ditimbulkan karena adanya keinginan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 6. Rasa sosial terhadap lingkungan sekitar menjadi acuh. 7. Terjadinya polusi informasi. 8. Merebaknya kejahatan teknologi seperti pelanggaran hak cipta / pembajakan, cybercrime (kejahatan maya). 9. Tumbuhnya sikap hedonisme dan konsumtif Sebagai kesimpulan akhir, bagaimanapun dunia yang semakin mengglobal dan pesatnya perkembangan media digital apabila di sikapi secara arif dan cerdas, maka yang akan terjadi adalah dampak postif tersebut akan berpihak terhadap kita, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tampaknya kita harus berkontemplasi sejenak bahwa, “sebenarnya perkembangan globalisasi yang salah satunya ditandai adanya perkembangan media digital itu tidaklah berbahaya, akan tetapi seharusnya kita tahu bagimana memposisikannya dengan tepat, itulah kata kuncinya.” Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi di Bidang Ekonomi Teknologi yang berkembang pesat, baik teknologi informasi, komunikasi, maupun transportasi. Sehingga orang dapat berhubungan melewati batas-batas negara. Lebih lanjut dampak positif teknologi informasi dan komunikasi di bidang ekonomi adalah: 1. Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. 2. Terjadinya industrialisasi. 3. Produktifitas dunia industri semakin meningkat. Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi. Di masa depan, dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan bahwa akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko. 4. Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki. Kecenderungan perkembangan teknologi dan ekonomi, akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah tersebut. 5. Kemajauan ekonomi dalam bidang kedokteran mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi. 6. Semakin maraknya penggunaan TIK akan semakin membuka lapangan pekerjaan. 7. Dengan fasilitas pemasangan iklan di internet pada situs-situs tertentu akan mempermudah kegiatan promosi dan pemasaran suatu produk. 8. Perusahaan dapat menjangkau pasar lebih luas, karena pembeli yang mengakses internet tidak dibatasi tempat dan waktu. 9. Perusahaan tidak perlu membuka cabang distribusi. 10. Pengeluaran lebih sedikit, karena pegawai tidak banyak. 11. Harga barang lebih murah, karena biaya operasionalnya murah. 12. Bisnis yang berbasis TIK atau yang biasa disebut e-commerce dapat mempermudah transaksi-transaksi bisnis suatu perusahaan atau perorangan. 13. Pemanfaatan TIK untuk membuat layanan baru dalam perekonomian dan bisnis antara lain internet banking, SMS banking, dan e-commerce. • Internet Banking Internet banking adalah layanan perbankan yang dilakukan dengan menggunakan internet. Transakasi yang dapat dilakukan adalah pengecekan saldo, transfer uang, pembayaran tagihan. Keuntungan internet banking bagi bank adalah bank dapat memberikan keleluasaan kepada nasabah untuk melakukan transaksi dimana saja dan kapan saja. Keuntungan internet banking bagi nasabah antara lain: a. Menghemat waktu, karena tidak perlu datang ke bank untuk melakukan transaksi. b. Menghemat biaya, karena transportasi menuju ke bank dapat dihilangkan. c. Lebih cepat, karena tidak perlu menunggu antrean yang banyak. • SMS Banking SMS Banking adalah layanan perbankan yang dilakukan dengan menggunakan SMS (Short Message Service). Transaksi yang dapat dilakukan adalah pengecekan saldo, transfer uang, dan pembayaran tagihan. • E-commerce Perdagangan elektronik (Electronic commerce ) Electronic commerce adalah perdagangan yang dilakukan dengan memanfaatkan internet. Keuntungan perdagangan elektronik antara lain: 1. Perusahaan dapat menjangkau pasar lebih luas, karena pembeli yang mengakses internet tidak dibatasi tempat dan waktu. 2. Perusahaan tidak perlu membuka cabang distribusi 3. Pengeluaran lebih sedikit, karena pegawai tidak banyak. 4. Harga barang lebih murah, karena biaya operasionalnya murah. Keuntungan yang diperoleh konsumen antara lain: a. Konsumen tidak perlu ke toko untuk mendapat barang. b. Pembeli dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan. c. Konsumen dapat membandingkan harga dari pemasang iklan lain di internet. d. Konsumen dapat membeli barang yang di dalam negeri tidak ada e. Harga barang lebih murah. 14. Dengan berkembangnya TIK yang menyebabkan banyaknya bermunculan pedagang online, konsumen tidak perlu ke toko untuk mendapat barang. 15. Pembeli dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan. 16. Konsumen dapat membandingkan harga dari pemasang iklan lain di internet. 17. Konsumen dapat membeli barang yang tidak ada di dalam negeri. 18. Di bidang bisnis baik perdagangan barang maupun jasa computer akan sangat penting untuk kegiatan transaksi baik rutin, periodik, maupun insidentil dan menyediakan informasi dengan cepat dan tepat.Sistem Informasi Manajemen (SIM) / Management Information system (MIS), merupakan sistem informasi yang sudah banyak diterapkan pada perusahaan yang bergerak bidang perdagangan barang dan jasa baik pada perusahaan besar, menengah, bahkan perusahaan kecil. Di perusahaan dagang seperti department store, telah dipergunakan mesin cash register (mesin kasir) yang dilengkapi dengan kontrol komputer sehingga mesin tersebut dapat dikontrol oleh pihak manajer hanya dari ruangan kerjanya secara cepat dan tepat, untuk scanning barcode kode barang dagangan, menghitung rugi laba, inventori dan sebagainya. Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi di Bidang Ekonomi Beberapa dampak negatif dari Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bidang pemerintahan, antara lain: 1. Dengan mudahnya melakukan transaksi di internet menyebabkan akan semakin memudahkan pula transaksi yang dilarang seperti transaksi barang selundupan atau transaksi narkoba. 2. Hal yang sering terjadi adalah pembobolan rekening suatu lembaga atau perorangan yang mengakibatkan kerugian financial yang besar. 3. Dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan banyaknya terjadi kasus penipuan dalam perdagangan online. 4. Resistensi Membeli Secara Online. Bagi orang awam yang belum pernah bertransaksi secara online, akan merasa janggal ketika harus bertransaksi tanpa bertatap muka atau melihat penjualnya. Belum lagi ketakutan bila pembayaran tak terkirim atau tak diterima. Atau barang tak dikirim, atau bahkan barang dikirim tetapi tak diterima. 5. Violance and Gore. Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan dalam dunia bisnis di internet. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjual situs mereka, salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang tabu. 6. Carding. Karena sifatnya yang langsung (real time), cara belanja dengan menggunakn kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internetpun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan kartu kredit) online dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka daptkan untuk melakukan kejahatan. 7. Cybercrime Cybercrime adalah kejahatan yang di lakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat: • Melintasi batas Negara • Perbuatan dilakukan secara illegal • Kerugian sangat besar • Sulit pembuktian secara hokum 8. Hacking Usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan system jaringan. Seperti hacking pada facebook yang sering terjadi sebagai sarana untuk jual beli online sehingga menimbulkan kerugian bagi penjual ataupun pembeli. 9. Cracking Usaha memasuki secara illegal sebuah jaringan dengan maksud mencuri, mengubah atau menghancurkan file yang di simpan pada jaringan tersebut. Dalam dunia bisnis online hal ini menimbulkan kerugian yang besar. 10. Saling menghujat di media sosial karena pengambilan foto-foto testimony ataupun foto-foto produk yang dijual tanpa izin. Apabila proses tersebut tidak berjalan maksimal, apakah dampaknya bagi perusahaan tersebut? Fenomena penyebab kegagalan ini dapat berasal dari 3 (tiga) stakeholder utamanya dari organisani/perusahaan tersebut, yaitu: management yang mewakili pihak perusahaan, vendors sebagai pihak ketiga yang membantu implementasi sistem baru tersebut, dan user sebagai pihak yang menggunakan sistem tersebut. Management adalah salah satu penyebab dari kesalahan peralihan sistem lama ke sistem baru, hal tersebut dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain • Kurangnya dukungan dan komitmen dari pimpinan puncak dan manajemen perusahaan, sehingga inisiatif sistem baru yang digulirkan berjalan dengan tersendat-sendat, Buruknya perencanaan yang disusun oleh pihak manajemen sehingga ketika ingin dieksekusi mengalami banyak hambatan dan kesulitan. • Ketidakinginan manajemen dalam “merubah paradigma” berpikir maupun bekerja lebih senang kondisi status quo sehingga berbagai prasyarat utama untuk menjalankan atau mengimplementasikan sistem baru tersebut tidak tercapai • Ekspektasi yang terlampau berlebihan dari pihak manajemen terhadap sistem baru yang ingin diterapkan tanpa perduli dengan isu-isu terkait dengan cara atau pendekatan atau strategi menerapkan sistem tersebut secara efektif, • Pendefinisian kebutuhan yang kabur, sehingga ruang lingkup sistem baru yang ingin diterapkan menjadi tidak jelas yang tentu saja mempertinggi resiko kegagalan dalam implementasinya. • Sosialisasi mengenai sistem baru yang buruk kepada segenap karyawan perusahaan sehingga banyak pihak yang menolak dibandingkan dengan yang mendukung. Pihak berikutnya yang dapat menyebapkan terjadinya kegagalan peralihan sistem informasi lama ke sistem informasi baru adalah pihak ketiga atau vendor. Faktor faktor kegagalan yang disebapkan oleh vendor : • Kurangnya pengalaman dari vendor maupun orang yang ditugaskan untuk mengimplementasikan sistem baru tersebut terutama untuk ruang lingkup penugasan serupa di industri yang sejenis. • Tidak mampu memberikan pemahaman dan penjelasan yang baik dan benar mengenai paradigma yang dipergunakan dalam sistem baru kepada mereka yang berkepentingan sehingga seringkali terjadi kekeliruan dalam cara memandangnya. • Pemilihan aplikasi yang keliru, atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan yang membutuhkannya. • Salah dalam usaha membantu manajemen dalam mendefinisikan kebutuhannya sehingga ketika sistem baru tersebut diterapkan, tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh para stakeholder terkait. • Tidak memberikan pelatihan yang memadai dan efektif kepada segenap stakeholder sehingga mereka tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya secara baik. Pihak terakhir yang memiliki andil besar dalam dalam penyebap kegagalan sistem informasi lama ke sistem informasi baru adalah user sebagai pihak yang menggunakan sistem tersebut. Faktor-faktor yang dapat ditimbulkan oleh user adalah : • Ketidakinginan para user untuk merubah cara kerja dalam beraktivitas sehari-hari sehingga selalu menentang segala bentuk aplikasi sistem baru tersebut, yang pada dasarnya membutuhkan keinginan dan kemampuan untuk bekerja dengan cara yang lebih efektif dan efisien. • Kurangnya porsi pelatihan bagi para user agar yang bersangkutan memiliki kompetensi dan keahlian yang memadai untuk menjalankan sistem baru tersebut. • Harapan yang berlebihan dan cenderung keliru terhadap sistem yang baru yang biasanya para user menganggap bahwa teknologi informasi dan software dapat menyelesaikan segala masalah dan kesulitan yang ada. Perubahan SI lama ke SI baru dapat mengakibatkan kesalahan yang beresiko dan berakibat fatal bagi jalannya suatu organisasi apabila tidak tepat dalam pelaksanaan SI barunya. Dalam memperkecil resiko yang ada, maka perlu kiranya diperhatikan berbagai cara dalam mengkonversi sistem dan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum pengalihan sistem informasi. Menurut O’Brien (2005) operasi awal dari sistem bisnis yang baru dapat menjadi tugas yang sulit. Hal ini biasanya memerlukan proses konversi dari penggunaan sistem yang ada saat ini (sistem lama) ke operasi aplikasi yang baru atau yang lebih baik. Medote konversi dapat mempermudah pengenalan teknologi informasi yang baru ke dlam organisasi. Empat bentuk utama dari konversi sistem mencakup konversi paralel, konversi bertahap (phased), konversi percontohan (pilot), dan konversi langsung. Konversi suatu sistem lama ke sistem baru memerlukan suatu proses secara bertahap. Metode konversi dapat mempermudah pengenalan teknologi informasi yang baru kedalam organisasi. Empat bentuk utama dari konversi sistem adalah sebagai berikut: Konversi parallel, Konversi bertahap, Konversi percontohan, Konversi langsung Konversi parallel merupakan konversi dari sistem informasi lama ke sistem informasi baru, dimana baik sistem yang lama maupun yang baru dioperasikan secara bersama-sama hingga tim pengembangan proyek dan manajemen pemakai akhir setuju bahwa sistem informasi tersebut berjalan dengan baik. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan penggunaan kedua metode sistem ini adalah resiko kegagalan sistem informasi menjadi kecil, sedangkan kelemahannya adalah penggunaan biaya yang cukup besar akibat pengoperasian kedua sistem tersebut . Jika diasumsikan sebuah perusahaan manufaktur menggunakan metode paralel dalam mengkonversi sistem informasi yang dimilikinya, apabila sistem informasi yang baru telah terinstal, namun terjadi kegagalan sistem karena sesuatu hal, maka perusahaan tersbut akan mengalami kendala dalam memproduksi produk sesuai dengan skedul yang telah ditentukan dan tentunya mengalami kerugian. Konversi percontohan atau lebih dikenal dengan istilah pilot conversion merupakan metode yang digunakan apabila sistem yang baru hendak diinstal pada banyak lokasi. Instalasi sistem baru dilakukan dilokasi tertentu sehingga dapat dievaluasi dan dilakukan perubahan atas kelemahan-kelemahan tersebut. Sistem informasi yang telah dievaluasi sehingga dapat beroperasi dengan baik kemudian menjadi contoh bagi lokasi lainnya. Keberhasilan dari lokasi ini akan menjadi pedoman untuk instalasi sistem informasi yang baru bagi lokasi lainnya. Apabila perusahaan seandainya mengkonversi SI yang baru pada lokasi-lokasi yang berbeda, apabila terjadi kesalahan maupun kegagalan sistem yang dapat mengganggu aktivitas operasional perusahaan, maka aktivitas bisnis dari keseluruhan lokasi yang tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal ini jelas akan mengganggu aktivitas operasional perusahaan secara menyeluruh dan dapat menciptakan kerugian yang sangat besar, baik kerugian tangible maupun intangible. Konversi bertahap merupakan konversi sistem infomasi (SI) yang lama ke SI baru yang dilakukan secara bertahap dengan menggunakan sebagian dari sistem informasi yang lama dan baru dengan proporsi aplikasi yang berbeda. Setiap kurun waktu tertentu sistem baru dan lama dievaluasi dan dikoreksi sampai akhirnya SI lama di ubah sepenuhnya menjadi SI baru. Konversi ini juga dapat dilakukan secara bertaha pada beberapa departemen, kantor cabang, atau lokasi yang dikonversi terlebih dahulu. Konversi bertahap memungkinkan proses implementasi secara bertahap di organisasi. Metode ini memberikan keuntungan dalam hal risiko kegagalan yang kecil, sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama karena dilakukan secara bertahap. Konversi langsung merupakan SI lama ke SI baru secara langsung tanpa melakukan pengujian terlebih dahulu. Keunggulan metode ini adalah menggunakan biaya yang sangat murah, sedangkan kelemahannya adalah risiko kegagalan SI yang cukup besar. Untuk itu harus ada penanganan lebih lanjut mengenai perubahan sistem informasi yang baru. Hal-hal yang perlu dilakukan Agar kesalahan ini tidak terjadi lagi, adalah : • Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin di bangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal dan latih sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan mengetahui tentang TI/sedikit tentang TI, sehingga dia paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan TI ini. • Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Asumsi hanya akan tercapai apabila para perancang sistem ini mengetahui masalah-masalah informasi apa yang ada di perusahaan dan yang harus segera di selesaikan. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem. • Para perancang sistem informasi harus menyadari bagaimana rasa takut di pihak pegawai maupun manajer dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah berikut: • menggunakan komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement) dengan memberikan pada komputer tugas yang berulang dan membosankan, serta memberikan pada pegawai tugas yang menantang kemampuan mereka. • Menggunakan komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan. Pengumuman oleh pihak manajemen puncak pada awal tahap analisis dan penerapan dari siklus hidup sistem merupakan contoh strategi ini. • Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Hubungan tersebut tercapai dengan sikap jujur mengenai dampak-dampak dari sistem komputer dan dengan berpegang pada janji. Komunikasi formal dan penyertaan pemakai pada tim proyek mengarah pada tercapainya kepercayaan. • Menyelaraskan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan. Pertama, identifikasi kebutuhan pegawai, kemudian memotivasi pegawai dengan menunjukkan pada mereka bahwa bekerja menuju tujuan perusahaan juga membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka. CONTOH PENERAPAN PADA PERUSAHAAN : KEAMANAN SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN P ERTAMINA REGION JAWA Keamanan data informasi elektronik menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan yangmenggunakan fasilitas IT dan menempatkannya sebagai infrastruktur penting. Sebab data atau informasiadalah asset bagi perusahaan tersebut. Berikut pengendalian keamanan system informasi pada perusahaan PERTAMINA EP REGION JAWA : 1.Kebijakan pengamanan (security police mengarahkan !isi dan misi manajemen agar kelangsunganorganisasi dapat dipertahankan dengan mengamankan dan menjaga integritas informasi yang penting yang dimiliki perusahaan.".Pengendalian akses sistem (System Sukses %ontrol. &engendalikan atau membatasi akses userterhadap informasi informasi dengan cara mengatur ke'enangan nya termasuk pengendaliansecara mobile omputing ataupun telenet'orking . &engontrol tata cara akses terhadap informasidan sumber daya yang ada meliputi berbagai aspek seperti : • Persyaratan bisnis untuk kendali akses. • Pengelolaan akses user user Success &anagement. • Kesadaran keamanan informasi User *esponsibilities. • Kendali akses ke jaringan • Kendali Success terhadapp system operasi (,perating System Success Kontrol. • Sukses terhadap aplikasi (Application Success & anagement. • Dengan dan penggunaan akses system (Monitoring System Success dan ). • Mobile computing and Telenet'orking. Mengembangan dan pemeliharaan system memastikan bah'a system operasi maupun aplikasi yang baru diimplementasikan mampu bersinergi melalui !erifikasi dan !alidasi. Pengamanan fisik dan lingkungan mencegah hilangnya atau kerusakan data yang disebabkan olehlingkungan fisik termasuk bencana alam dan penurian data yang tersimpan dalam media penyimpanan atau dalam fasilitas penyimpanan informasi yang lain. Penyesuaian memastikan implementasi kebijakan keamanan selaras dengan peraturan dan perundangan yang berlaku termasuk perjanjian kontrak melalui audit system secara berkala. Keamanan personel)paya mengurangi resiko dari penyalahgunaan fungsi dan'e'enang akibat kesalahan manusia manipulasi data dalam pengoperasian serta aplikasi oleh user.Kegiatan ang dilakuakn diantaranya adalah pelatihan2pelatihan mengenai kesadaran informasi agarsetiap user mampu menjaga keamanan data dan informasi dalam lingkungan kerja masing2masing. 4. Organisasi keamanan memelihara keamanan informasi secara global pada suatu organisasi atauinstansi memelihara dan menjaga keutuan system informasi yang dilakukan oleh pihak eksternaltermasuk pengendalian terhadap pengolahan informasi yang dilakukan oleh pihak ketiga. 5. Pengendalian asset memberikan perlindungan terhadap asset perusahaan yang berupa assetinformasi berdasarkan tingkat perlindungan yang ditentukan. erlindungan asset ini meliputiaccountability for asset dan klasifikasi informasi. 6. Pengelolaan kelangsungan usaha siaga terhadap resiko yang memungkinkan timbulnya majorfailure atau kegagalan system utama. Sehingga diperlukan pengaturan dan pengelolaan untukkelangsungan peruses bisnis dengan mempertimbangkan apek dari business majemen. Jakarta, 22 November 2018 Mayang Sari DAFTAR PUSTAKA Putra, Yananto Mihadi. (2018). Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen : Implementasi Sistem Informasi. FEB – Universitas Mercubuana: Jakarta. http://www.academia.edu/23350002/KEAMANAN_SISTEM_INFORMASI_PADA_PERUSAHAAN_PERTAMINA_EP_REGION_JAWA https://garudacyber.co.id/artikel/900-kelebihan-dan-kekurangan-manajemen-sistem-informasi-terhadap-organisasi-maupun-perusahaan https://blingjamong.wordpress.com/2013/11/18/1-1dampak-positif-dan-negatif-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-bidang-pendidikan-pemerintah-dan-ekonomi/ Giddensi, Anthony.2001. Runaway World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Slaouka, Mark.1995. Ruang Yang Hlang: Pandangan Tentang Budaya Cyberspace Yang Merisukan.Bandung:Mizan. Nasution, Zulkarimein.1989.Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif: Latar Belakang dan Perkembangannya. Jakarta: LP Fakultas Ekonomi UI. Muis, A.2001. Indonesia di Era Dunia Maya: Teknologi Informasi Dalam Dunia Tanpa Batas. Bandung: Remaja Rosda Karya. Ekspresi, Majalah Mahasiswa UNY, Edisi XIV Maret 2002 www.wikipedia.com

Template by:

Free Blog Templates